Tatu Dita Oktaviani – Membuat Makalah

1. PERTANYAAN

Buatlah Makalah Pendidikan Agama Islam dengan cara berkelompok, satu kelompak maksimal 4 orang !

Dengan cara pilih tema judul di bawah ini!

  1. Dinul Islam (Agama Islam)
  2. Islam sebagai Agama Rahmatan Lil’alamin
  3. Kajian terhadap Islam Nusantara
  4. Kajian Tauhid
  5. Kajian Tentang Iman
  6. Pengertian Akhlak Menurut Islam
  7. Manusia Sebagai Khalifah Allah di Muka Bumi
  8. Kajian Tentang Al-Qur’an
  9. Hubungan Agama Islam dan Ilmu Pengertahuan
  10. Kajian tentang Tasawuf
  11. Kajian tentang Hadits
  12. Hubungan Iman dan Ilmu
  13. Islam Agama Yang Universal
  14. Kajian Terhadap Jiwa Manusia

2. STATUS

  • 100% Tercapai

3. KETERANGAN ATAU PERNYATAAN

  • Saya sudah mengerjakan tugas ya diberikan dengan baik.

4. BUKTI

Jawablah pertanyaan ini dengan benar. Wan danil

1.Kenapa manusia perlu beragama? Jelaskan!

JAWAB :

Karena pada dasarnya manusia memiliki keterbatasan pengetahuan dalam banyak hal, baik mengenai sesuatu yang tampak maupun yang gaib, dan juga keterbatasan dalam memprediksi apa yang akan terjadi pada diri nya dan orang lain, dan sebagainya. Oleh karena keterbatasan itulah maka manusia perlu memerlukan agama untuk membantu dan memberikan pencerahan spiritual kepada diri nya.

Manusia membutuhkan agama tidak sekedar untuk kebaikan diri nya di hadapan Tuhan saja, melainkan juga untuk membantu dirinya dalam menghadapi bermacam-macam problema yang kadang-kadang tidak dapat dipahami nya. Di sinilah manusia diisyaratkan oleh diri dan alam nya bahwa Zat yang lebih unggul dari diri nya, Yang Maha Segala-galanya, seperti yang dijelaskan oleh para antropolog bahwa agama merupakan respons terhadap kebutuhan untuk mengatasi kegagalan yang timbul akibat ketidakmampuan manusia untuk memahami kejadian-kejadian atau peristiwwa-peristiwa yang rupa-rupa nya tidak dapat diketahui dengan tepat (Sulaiman dan Albuny, 1984 :8).

Selain daripada itu agama juga memberi isyarat kepada manusia dan alam bahwa ada Zat yang lebih unggul, Zat Yang Maha Segala-galanya, yang disitu manusia perlu bersandar kepad Dia melalui medium agama. Dengan kata lain perlu bersandar dan berpasrah (tawakal) kepada Dia melalui agama karena agama menjadi tempat bagi kita untuk mengadu dan berkomunikasi dengan Tuhan. Kepasrahan kita kepada Tuhan didasarkan pada suatu ajaran bahwa manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan.

  1. Menurut ulama ahlussunnah waljama’ah sifat wajib bagi Allah itu ada 20, sebutkan disertai artinya sifat-sifat yang anda ketahui?JAWAB :Wujud = Ada
    Qidam = Dahulu
    Baqa’ = Kekal
    Mukhalafatuhu lil hawaditsi = Berbeda dengan ciptaan-Nya
    Qiyamuhu binafsihi = Berdiri sendiri
    Wahdaniyyah = Mahaesa
    Qudrah = Maha Berkuasa
    Iradah = Maha Berkehendak
    Ilmu = Maha Mengetahui
    Hayat = Mahahidup
    Sama’ = Maha Mendengar
    Bashar = Maha Melihat
    Kalam = Maha Berbicara
    Qadiran = Maha Berkuasa
    Muridan = Maha Berkehendak
    Aliman = Maha Mengetahui
    Hayyan =  Maha Hidup
    Sami’an = Maha Mendengar
    Bashirun = Maha Melihat
    Mutakalliman = Maha Berfirman
  2. Apa alasannya manusia di larang memikirkan zat Allah tapi yang di perintahkan memikirkan makhluknya Allah ….sebutkan bunyi haditsnya!JAWAB :Salah satu masalah yang dianjurkan dalam al-Qur’an dan sebagian riwayat adalah supaya manusia memikirkan tentang penciptaan makhluk-makhluk Allah.
    Adapun terkait dengan zat Allah Swt, manusia dilarang untuk memikirkannya.Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam Bersabda”

    “Berpikirlah kalian tentang ciptaan Allah dan jangan sekali-kali berpikir tentang Allah, sebab memikirkan tentang Ar Rabb (Allah) akan menggoreskan keraguan dalam hati“.

    Berkata Al Imam Al Barbahari Rahimahullahu Ta’ala:

    والفكرة في الله بدعة لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم تفكروا في الخلق ولا تفكروا في الله فإن الفكرة في الرب تقدح الشك في القلب

    Dan memikirkan tentang Allah Azza wajalla adalah bid’ah berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.

    Yang jelas, bahwasanya berpikir itu selayaknya diarahkan kepada ciptaan Allah Azza wajalla bukan pada dzat Allah Azza wajalla. hendaknya kita membaca firman Allah,

    فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

    “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy Syuuraa: 11)

    Wajib bagi kita untuk berserah diri menerima ayat ini sehingga akal kita tidak meraba-raba sesuatu yang tidak layak untuk dipikirkan. Apabila Surga saja di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati seseorang padahal itu adalah makhluk Allah Azza wajalla, lantas bagaimana dzat Allah?!

  3. Untuk apakah Allah menciptakan manusia dan apa tujuannya?JAWAB :Allah menciptakan manusia dengan tujuan yang luar biasa. Dia menciptakan pria dan wanita pertama, yaitu Adam dan Hawa, untuk tinggal di sebuah taman yang indah. Allah ingin mereka beranak cucu, membuat seluruh bumi menjadi firdaus, dan mengurus binatang. Itulah yang juga Allah inginkan bagi semua manusia. Tujuan Allah belum berubah.​Allah menciptakan alam semesta (termasuk manusia) tidaklah dengan palsu dan sia-sia (QS. As-Shod ayat 27). Segala ciptaan-Nya mengandung maksud dan manfaat. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang paling mulia, sekaligus sebagai khalifah di muka bumi, manusia harus meyadari terhadap tujuan hidupnya. Dalam konteks ini, al-Qur’an menjelaskan, bahwa manusia memiliki beberapa tujuan hidup, diantaranya adalah sebagai berikut :

    – Menyembah Kepada Allah (Beriman)

    – Memanfaatkan Alam Semesta (Beramal)

    – Membentuk Sejarah Dan Peradaban (Berilmu)

  4. Dalam mempelajari agama yang benar harus melalui tahapan-tahapan yaitu iman, islam dan ihsan. Jelaskan makna iman, islam dan ihsan!JAWAB :
    • IMAN :

    Iman (asal kata  amana = percaya) orangnya dinamakan “Mukmin/mukminah”.

    Definisi Iman berdasarkan hadist merupakan tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan merupakan satu kesatuan.

    Para imam dan ulama telah mendefinisikan istilah iman ini, antara lain, seperti diucapkan oleh Imam Ali bin Abi Talib: “Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota.”

    Aisyah r.a. berkata: “Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota.”

    Imam al-Ghazali menguraikan makna iman: “Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota).”

    • ISLAM :

    Islam (asal kata aslama = selamat) orangnya dinamakan “Muslim/Muslimah”.

    Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah :

    الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، إذلالا وخضوعا

    “Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, dan taat serta patuh kepada-Nya, dengan penuh ketundukan dan perendahan diri”.

    • IHSAN :

    Ihsan (asal kata ahsana = baik) orangnya dinamakan “muhsin/muhsinah”.

    Ihsan (Arab: احسان; “kesempurnaan” atau “terbaik”) adalah seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.

    Ihsan adalah lawan dari isa’ah (berbuat kejelekan), yaitu seorang manusia mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain. Mencurahkan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan harta, ilmu, kedudukan dan badannya.

Jawablah pertanyaan ini dengan benar – Elisa Akmaliah

1. PERTANYAAN

  1. Kenapa manusia perlu beragama? Jelaskan
  2. Dalam mempelajari agama yang benar harus melalui tahapan-tahapan yaitu iman, islam dan ihsan jelaskan makna iman,islam dan ihsan!
  3. Menurut ulama ahlussunnah waljama’ah sifat wajib bagi Allah itu ada 20, sebutkan disertai artinya sifat-sifat yang anda ketahui
  4. Apa alasannya manusia di larang memikirkan zat Allah tapi yang di perintahkan memikirkan makhluknya Allah ….sebutkan bunyi haditsnya!
  5. Untuk apakah Allah menciptakan manusia dan apa tujuannya?

2. STATUS

  • 100% Tercapai

3. KETERANGAN ATAU PERNYATAAN

  • Saya sudah mengerjakan tugas yang diberikan dengan baik.

4. BUKTI

  1. Kenapa manusia perlu beragama? Jelaskan!JAWAB :

    Karena pada dasarnya manusia memiliki keterbatasan pengetahuan dalam banyak hal, baik mengenai sesuatu yang tampak maupun yang gaib, dan juga keterbatasan dalam memprediksi apa yang akan terjadi pada diri nya dan orang lain, dan sebagainya. Oleh karena keterbatasan itulah maka manusia perlu memerlukan agama untuk membantu dan memberikan pencerahan spiritual kepada diri nya.

    Manusia membutuhkan agama tidak sekedar untuk kebaikan diri nya di hadapan Tuhan saja, melainkan juga untuk membantu dirinya dalam menghadapi bermacam-macam problema yang kadang-kadang tidak dapat dipahami nya. Di sinilah manusia diisyaratkan oleh diri dan alam nya bahwa Zat yang lebih unggul dari diri nya, Yang Maha Segala-galanya, seperti yang dijelaskan oleh para antropolog bahwa agama merupakan respons terhadap kebutuhan untuk mengatasi kegagalan yang timbul akibat ketidakmampuan manusia untuk memahami kejadian-kejadian atau peristiwwa-peristiwa yang rupa-rupa nya tidak dapat diketahui dengan tepat (Sulaiman dan Albuny, 1984 :8).

    Selain daripada itu agama juga memberi isyarat kepada manusia dan alam bahwa ada Zat yang lebih unggul, Zat Yang Maha Segala-galanya, yang disitu manusia perlu bersandar kepad Dia melalui medium agama. Dengan kata lain perlu bersandar dan berpasrah (tawakal) kepada Dia melalui agama karena agama menjadi tempat bagi kita untuk mengadu dan berkomunikasi dengan Tuhan. Kepasrahan kita kepada Tuhan didasarkan pada suatu ajaran bahwa manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan.

  2. Dalam mempelajari agama yang benar harus melalui tahapan-tahapan yaitu iman, islam dan ihsan. Jelaskan makna iman, islam dan ihsan!JAWAB :
    • IMAN :

    Iman (asal kata  amana = percaya) orangnya dinamakan “Mukmin/mukminah”.

    Definisi Iman berdasarkan hadist merupakan tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan merupakan satu kesatuan.

    Para imam dan ulama telah mendefinisikan istilah iman ini, antara lain, seperti diucapkan oleh Imam Ali bin Abi Talib: “Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota.”

    Aisyah r.a. berkata: “Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota.”

    Imam al-Ghazali menguraikan makna iman: “Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota).”

    • ISLAM :

    Islam (asal kata aslama = selamat) orangnya dinamakan “Muslim/Muslimah”.

    Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah :

    الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، إذلالا وخضوعا

    “Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, dan taat serta patuh kepada-Nya, dengan penuh ketundukan dan perendahan diri”.

    • IHSAN :

    Ihsan (asal kata ahsana = baik) orangnya dinamakan “muhsin/muhsinah”.

    Ihsan (Arab: احسان; “kesempurnaan” atau “terbaik”) adalah seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.

    Ihsan adalah lawan dari isa’ah (berbuat kejelekan), yaitu seorang manusia mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain. Mencurahkan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan harta, ilmu, kedudukan dan badannya.

  3. Menurut ulama ahlussunnah waljama’ah sifat wajib bagi Allah itu ada 20, sebutkan disertai artinya sifat-sifat yang anda ketahui?JAWAB :

    Wujud = Ada
    Qidam = Dahulu
    Baqa’ = Kekal
    Mukhalafatuhu lil hawaditsi = Berbeda dengan ciptaan-Nya
    Qiyamuhu binafsihi = Berdiri sendiri
    Wahdaniyyah = Mahaesa
    Qudrah = Maha Berkuasa
    Iradah = Maha Berkehendak
    Ilmu = Maha Mengetahui
    Hayat = Mahahidup
    Sama’ = Maha Mendengar
    Bashar = Maha Melihat
    Kalam = Maha Berbicara
    Qadiran = Maha Berkuasa
    Muridan = Maha Berkehendak
    Aliman = Maha Mengetahui
    Hayyan =  Maha Hidup
    Sami’an = Maha Mendengar
    Bashirun = Maha Melihat
    Mutakalliman = Maha Berfirman

  4. Apa alasannya manusia di larang memikirkan zat Allah tapi yang di perintahkan memikirkan makhluknya Allah ….sebutkan bunyi haditsnya!JAWAB :

    Salah satu masalah yang dianjurkan dalam al-Qur’an dan sebagian riwayat adalah supaya manusia memikirkan tentang penciptaan makhluk-makhluk Allah.
    Adapun terkait dengan zat Allah Swt, manusia dilarang untuk memikirkannya.

    Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam Bersabda”

    “Berpikirlah kalian tentang ciptaan Allah dan jangan sekali-kali berpikir tentang Allah, sebab memikirkan tentang Ar Rabb (Allah) akan menggoreskan keraguan dalam hati“.

    Berkata Al Imam Al Barbahari Rahimahullahu Ta’ala:

    والفكرة في الله بدعة لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم تفكروا في الخلق ولا تفكروا في الله فإن الفكرة في الرب تقدح الشك في القلب

    Dan memikirkan tentang Allah Azza wajalla adalah bid’ah berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.

    Yang jelas, bahwasanya berpikir itu selayaknya diarahkan kepada ciptaan Allah Azza wajalla bukan pada dzat Allah Azza wajalla. hendaknya kita membaca firman Allah,

    فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

    “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy Syuuraa: 11)

    Wajib bagi kita untuk berserah diri menerima ayat ini sehingga akal kita tidak meraba-raba sesuatu yang tidak layak untuk dipikirkan. Apabila Surga saja di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati seseorang padahal itu adalah makhluk Allah Azza wajalla, lantas bagaimana dzat Allah?!

  5. Untuk apakah Allah menciptakan manusia dan apa tujuannya?JAWAB :

    Allah menciptakan manusia dengan tujuan yang luar biasa. Dia menciptakan pria dan wanita pertama, yaitu Adam dan Hawa, untuk tinggal di sebuah taman yang indah. Allah ingin mereka beranak cucu, membuat seluruh bumi menjadi firdaus, dan mengurus binatang. Itulah yang juga Allah inginkan bagi semua manusia. Tujuan Allah belum berubah.​

    Allah menciptakan alam semesta (termasuk manusia) tidaklah dengan palsu dan sia-sia (QS. As-Shod ayat 27). Segala ciptaan-Nya mengandung maksud dan manfaat. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang paling mulia, sekaligus sebagai khalifah di muka bumi, manusia harus meyadari terhadap tujuan hidupnya. Dalam konteks ini, al-Qur’an menjelaskan, bahwa manusia memiliki beberapa tujuan hidup, diantaranya adalah sebagai berikut :

    – Menyembah Kepada Allah (Beriman)

    – Memanfaatkan Alam Semesta (Beramal)

    – Membentuk Sejarah Dan Peradaban (Berilmu)

Maulani Shiva Amalia – Jawablah Pertanyaan Ini Dengan Benar!

  1. Kenapa manusia perlu beragama? Jelaskan

Karena dalam agama terdapat aturan yang patut kita patuhi. Aturan tersebut berasal dari Yang Maha Kuasa, yang akan memberikan kedamaian bagi diri kita sendiri dan kehidupan sosial, dunia, dan akhirat, apabila kita mematuhinya dengan sebaik-baiknya.

2. Dalam mempelajari agama yang benar harus melalui tahapan-tahapan yaitu iman, islam dan ihsan jelaskan makna iman,islam dan ihsan!

  • Iman secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan). Sedangkan secara istilah syar’i, iman adalah “Keyakinan dalam hati, Perkataan di lisan, amalan dengan anggota badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan maksiat”
  • Islam Islam secara bahasa artinya berserah diri dan damai. Islam adalah agama Allah SWT. “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran:19). Kata Islam berasal dari bahasa Arab yaitu aslama yang artinya patuh, pasrah, menyerah diri, atau selamat. Pemeluk Islam atau orang yang tunduk dan patuh berserah diri kepada Allah disebut Muslim.
  • Ihsan adalah seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.

3. Menurut ulama ahlussunnah waljama’ah sifat wajib bagi Allah itu ada 20, sebutkan disertai artinya sifat-sifat yang anda ketahui

•    Wujud = Ada
•    Qidam = Dahulu
•    Baqa’ = Kekal
•    Mukhalafatuhu lil hawaditsi = Berbeda dengan ciptaan-Nya
•    Qiyamuhu binafsihi = Berdiri sendiri
•    Wahdaniyyah = Mahaesa
•    Qudrah = Maha Berkuasa
•    Iradah = Maha Berkehendak
•    Ilmu = Maha Mengetahui
•    Hayat = Mahahidup
•    Sama’ = Maha Mendengar
•    Bashar = Maha Melihat
•    Kalam = Maha Berbicara
•    Qadiran = Maha Berkuasa
•    Muridan = Maha Berkehendak
•    Aliman = Maha Mengetahui
•    Hayyan =  Maha Hidup
•    Sami’an = Maha Mendengar
•    Bashirun = Maha Melihat
•    Mutakalliman = Maha Berfirman

4. Apa alasannya manusia di larang memikirkan zat Allah tapi yang di perintahkan memikirkan makhluknya Allah ….sebutkan bunyi haditsnya!

Salah satu masalah yang dianjurkan dalam al-Qur’an dan sebagian riwayat adalah supaya manusia memikirkan tentang penciptaan makhluk-makhluk Allah.
Adapun terkait dengan zat Allah Swt, manusia dilarang untuk memikirkannya. Seperti misalnya dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda, “Pikirkanlah tentang penciptaan Allah Swt, namun jangan memikirkan tentang zat Allah Swt.”

والفكرة في الله بدعة لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم تفكروا في الخلق ولا تفكروا في الله فإن الفكرة في الرب تقدح الشك في القلب

5. Untuk apakah Allah menciptakan manusia dan apa tujuannya?

Tujuan penciptaan manusia dalam islam yaitu,

  • Mengabdi Kepada Allah SWT Sebagai Illah

    ”Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku” (QS Adzariyat : 54)

  • Menjadi Khalifah fil Ard dan Tidak Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

    Tugas manusia adalah menjadi khalifah di muka bumi. Khalifah sendiri bisa bermakna pemimpin atau penggganti. Misi ini adalah hakikat manusia menurut islam yang harus dilakukan. Untuk mengetahui apa sebetulnya makna khalifah maka perlu memahaminya lebih dalam lagi dengan pendekatan ayat Al-Quran.

  • Mengejar Tujuan Akhirat

    Kehidupan di dunia adalah sementara. Untuk itu, dunia bukan tujuan akhir dari kehidupan manusia dan juga bukan tujuan dari penciptaan manusia untuk tinggal di bumi. Kehidupan sejati adalah di Akhirat nanti. Untuk itu Allah senantiasa menyuruh melakukan kebaikan untuk mendapatkan pahala akhirat, menyampaikan kebahagiaan surga dan penderitaan neraka, serta memotivasi di setiap ibadah dan perilaku kebaikan dengan balasan pahala.

 

Jawablah Pertanyaan Ini Dengan Benar! – Vivi Dwi Febi Arista

1. PERTANYAAN

  1. Kenapa manusia perlu beragama? Jelaskan
  2. Dalam mempelajari agama yang benar harus melalui tahapan-tahapan yaitu iman, islam dan ihsan jelaskan makna iman,islam dan ihsan!
  3. Menurut ulama ahlussunnah waljama’ah sifat wajib bagi Allah itu ada 20, sebutkan disertai artinya sifat-sifat yang anda ketahui
  4. Apa alasannya manusia di larang memikirkan zat Allah tapi yang di perintahkan memikirkan makhluknya Allah ….sebutkan bunyi haditsnya!
  5. Untuk apakah Allah menciptakan manusia dan apa tujuannya?

2. STATUS

  • 100% Tercapai

3. KETERANGAN ATAU PERNYATAAN

  • Saya sudah mengerjakan tugas yang diberikan dengan baik.

4. BUKTI

  1. Kenapa manusia perlu beragama? Jelaskan!JAWAB :Karena pada dasarnya manusia memiliki keterbatasan pengetahuan dalam banyak hal, baik mengenai sesuatu yang tampak maupun yang gaib, dan juga keterbatasan dalam memprediksi apa yang akan terjadi pada diri nya dan orang lain, dan sebagainya. Oleh karena keterbatasan itulah maka manusia perlu memerlukan agama untuk membantu dan memberikan pencerahan spiritual kepada diri nya.Manusia membutuhkan agama tidak sekedar untuk kebaikan diri nya di hadapan Tuhan saja, melainkan juga untuk membantu dirinya dalam menghadapi bermacam-macam problema yang kadang-kadang tidak dapat dipahami nya. Di sinilah manusia diisyaratkan oleh diri dan alam nya bahwa Zat yang lebih unggul dari diri nya, Yang Maha Segala-galanya, seperti yang dijelaskan oleh para antropolog bahwa agama merupakan respons terhadap kebutuhan untuk mengatasi kegagalan yang timbul akibat ketidakmampuan manusia untuk memahami kejadian-kejadian atau peristiwwa-peristiwa yang rupa-rupa nya tidak dapat diketahui dengan tepat (Sulaiman dan Albuny, 1984 :8).

    Selain daripada itu agama juga memberi isyarat kepada manusia dan alam bahwa ada Zat yang lebih unggul, Zat Yang Maha Segala-galanya, yang disitu manusia perlu bersandar kepad Dia melalui medium agama. Dengan kata lain perlu bersandar dan berpasrah (tawakal) kepada Dia melalui agama karena agama menjadi tempat bagi kita untuk mengadu dan berkomunikasi dengan Tuhan. Kepasrahan kita kepada Tuhan didasarkan pada suatu ajaran bahwa manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan.

  2. Dalam mempelajari agama yang benar harus melalui tahapan-tahapan yaitu iman, islam dan ihsan. Jelaskan makna iman, islam dan ihsan!JAWAB :
    • IMAN :

    Iman (asal kata  amana = percaya) orangnya dinamakan “Mukmin/mukminah”.

    Definisi Iman berdasarkan hadist merupakan tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan merupakan satu kesatuan.

    Para imam dan ulama telah mendefinisikan istilah iman ini, antara lain, seperti diucapkan oleh Imam Ali bin Abi Talib: “Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota.”

    Aisyah r.a. berkata: “Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota.”

    Imam al-Ghazali menguraikan makna iman: “Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota).”

    • ISLAM :

    Islam (asal kata aslama = selamat) orangnya dinamakan “Muslim/Muslimah”.

    Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah :

    الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، إذلالا وخضوعا

    “Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, dan taat serta patuh kepada-Nya, dengan penuh ketundukan dan perendahan diri”.

    • IHSAN :

    Ihsan (asal kata ahsana = baik) orangnya dinamakan “muhsin/muhsinah”.

    Ihsan (Arab: احسان; “kesempurnaan” atau “terbaik”) adalah seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.

    Ihsan adalah lawan dari isa’ah (berbuat kejelekan), yaitu seorang manusia mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain. Mencurahkan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan harta, ilmu, kedudukan dan badannya.

  3. Menurut ulama ahlussunnah waljama’ah sifat wajib bagi Allah itu ada 20, sebutkan disertai artinya sifat-sifat yang anda ketahui?JAWAB :Wujud = Ada
    Qidam = Dahulu
    Baqa’ = Kekal
    Mukhalafatuhu lil hawaditsi = Berbeda dengan ciptaan-Nya
    Qiyamuhu binafsihi = Berdiri sendiri
    Wahdaniyyah = Mahaesa
    Qudrah = Maha Berkuasa
    Iradah = Maha Berkehendak
    Ilmu = Maha Mengetahui
    Hayat = Mahahidup
    Sama’ = Maha Mendengar
    Bashar = Maha Melihat
    Kalam = Maha Berbicara
    Qadiran = Maha Berkuasa
    Muridan = Maha Berkehendak
    Aliman = Maha Mengetahui
    Hayyan =  Maha Hidup
    Sami’an = Maha Mendengar
    Bashirun = Maha Melihat
    Mutakalliman = Maha Berfirman
  4. Apa alasannya manusia di larang memikirkan zat Allah tapi yang di perintahkan memikirkan makhluknya Allah ….sebutkan bunyi haditsnya!JAWAB :Salah satu masalah yang dianjurkan dalam al-Qur’an dan sebagian riwayat adalah supaya manusia memikirkan tentang penciptaan makhluk-makhluk Allah.
    Adapun terkait dengan zat Allah Swt, manusia dilarang untuk memikirkannya.Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam Bersabda”

    “Berpikirlah kalian tentang ciptaan Allah dan jangan sekali-kali berpikir tentang Allah, sebab memikirkan tentang Ar Rabb (Allah) akan menggoreskan keraguan dalam hati“.

    Berkata Al Imam Al Barbahari Rahimahullahu Ta’ala:

    والفكرة في الله بدعة لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم تفكروا في الخلق ولا تفكروا في الله فإن الفكرة في الرب تقدح الشك في القلب

    Dan memikirkan tentang Allah Azza wajalla adalah bid’ah berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.

    Yang jelas, bahwasanya berpikir itu selayaknya diarahkan kepada ciptaan Allah Azza wajalla bukan pada dzat Allah Azza wajalla. hendaknya kita membaca firman Allah,

    فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

    “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy Syuuraa: 11)

    Wajib bagi kita untuk berserah diri menerima ayat ini sehingga akal kita tidak meraba-raba sesuatu yang tidak layak untuk dipikirkan. Apabila Surga saja di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati seseorang padahal itu adalah makhluk Allah Azza wajalla, lantas bagaimana dzat Allah?!

  5. Untuk apakah Allah menciptakan manusia dan apa tujuannya?JAWAB :Allah menciptakan manusia dengan tujuan yang luar biasa. Dia menciptakan pria dan wanita pertama, yaitu Adam dan Hawa, untuk tinggal di sebuah taman yang indah. Allah ingin mereka beranak cucu, membuat seluruh bumi menjadi firdaus, dan mengurus binatang. Itulah yang juga Allah inginkan bagi semua manusia. Tujuan Allah belum berubah.​Allah menciptakan alam semesta (termasuk manusia) tidaklah dengan palsu dan sia-sia (QS. As-Shod ayat 27). Segala ciptaan-Nya mengandung maksud dan manfaat. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang paling mulia, sekaligus sebagai khalifah di muka bumi, manusia harus meyadari terhadap tujuan hidupnya. Dalam konteks ini, al-Qur’an menjelaskan, bahwa manusia memiliki beberapa tujuan hidup, diantaranya adalah sebagai berikut :

    – Menyembah Kepada Allah (Beriman)

    – Memanfaatkan Alam Semesta (Beramal)

    – Membentuk Sejarah Dan Peradaban (Berilmu)

Indah Choirunnisa – jawablah pertanyaan ini dengan benar

1. PERTANYAAN

  1. Kenapa manusia perlu beragama? Jelaskan
  2. Dalam mempelajari agama yang benar harus melalui tahapan-tahapan yaitu iman, islam dan ihsan jelaskan makna iman,islam dan ihsan!
  3. Menurut ulama ahlussunnah waljama’ah sifat wajib bagi Allah itu ada 20, sebutkan disertai artinya sifat-sifat yang anda ketahui
  4. Apa alasannya manusia di larang memikirkan zat Allah tapi yang di perintahkan memikirkan makhluknya Allah ….sebutkan bunyi haditsnya!
  5. Untuk apakah Allah menciptakan manusia dan apa tujuannya?

2. STATUS

  • 100% Tercapai

3. KETERANGAN ATAU PERNYATAAN

  • Saya sudah mengerjakan tugas yang diberikan dengan baik.

4. BUKTI

  1. Kenapa manusia perlu beragama? Jelaskan!JAWAB :

    Karena pada dasarnya manusia memiliki keterbatasan pengetahuan dalam banyak hal, baik mengenai sesuatu yang tampak maupun yang gaib, dan juga keterbatasan dalam memprediksi apa yang akan terjadi pada diri nya dan orang lain, dan sebagainya. Oleh karena keterbatasan itulah maka manusia perlu memerlukan agama untuk membantu dan memberikan pencerahan spiritual kepada diri nya.

    Manusia membutuhkan agama tidak sekedar untuk kebaikan diri nya di hadapan Tuhan saja, melainkan juga untuk membantu dirinya dalam menghadapi bermacam-macam problema yang kadang-kadang tidak dapat dipahami nya. Di sinilah manusia diisyaratkan oleh diri dan alam nya bahwa Zat yang lebih unggul dari diri nya, Yang Maha Segala-galanya, seperti yang dijelaskan oleh para antropolog bahwa agama merupakan respons terhadap kebutuhan untuk mengatasi kegagalan yang timbul akibat ketidakmampuan manusia untuk memahami kejadian-kejadian atau peristiwwa-peristiwa yang rupa-rupa nya tidak dapat diketahui dengan tepat (Sulaiman dan Albuny, 1984 :8).

    Selain daripada itu agama juga memberi isyarat kepada manusia dan alam bahwa ada Zat yang lebih unggul, Zat Yang Maha Segala-galanya, yang disitu manusia perlu bersandar kepad Dia melalui medium agama. Dengan kata lain perlu bersandar dan berpasrah (tawakal) kepada Dia melalui agama karena agama menjadi tempat bagi kita untuk mengadu dan berkomunikasi dengan Tuhan. Kepasrahan kita kepada Tuhan didasarkan pada suatu ajaran bahwa manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan.

  2. Dalam mempelajari agama yang benar harus melalui tahapan-tahapan yaitu iman, islam dan ihsan. Jelaskan makna iman, islam dan ihsan!JAWAB :
    • IMAN :

    Iman (asal kata  amana = percaya) orangnya dinamakan “Mukmin/mukminah”.

    Definisi Iman berdasarkan hadist merupakan tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan merupakan satu kesatuan.

    Para imam dan ulama telah mendefinisikan istilah iman ini, antara lain, seperti diucapkan oleh Imam Ali bin Abi Talib: “Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota.”

    Aisyah r.a. berkata: “Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota.”

    Imam al-Ghazali menguraikan makna iman: “Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota).”

    • ISLAM :

    Islam (asal kata aslama = selamat) orangnya dinamakan “Muslim/Muslimah”.

    Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah :

    الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، إذلالا وخضوعا

    “Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, dan taat serta patuh kepada-Nya, dengan penuh ketundukan dan perendahan diri”.

    • IHSAN :

    Ihsan (asal kata ahsana = baik) orangnya dinamakan “muhsin/muhsinah”.

    Ihsan (Arab: احسان; “kesempurnaan” atau “terbaik”) adalah seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.

    Ihsan adalah lawan dari isa’ah (berbuat kejelekan), yaitu seorang manusia mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain. Mencurahkan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan harta, ilmu, kedudukan dan badannya.

  3. Menurut ulama ahlussunnah waljama’ah sifat wajib bagi Allah itu ada 20, sebutkan disertai artinya sifat-sifat yang anda ketahui?JAWAB :

    Wujud = Ada
    Qidam = Dahulu
    Baqa’ = Kekal
    Mukhalafatuhu lil hawaditsi = Berbeda dengan ciptaan-Nya
    Qiyamuhu binafsihi = Berdiri sendiri
    Wahdaniyyah = Mahaesa
    Qudrah = Maha Berkuasa
    Iradah = Maha Berkehendak
    Ilmu = Maha Mengetahui
    Hayat = Mahahidup
    Sama’ = Maha Mendengar
    Bashar = Maha Melihat
    Kalam = Maha Berbicara
    Qadiran = Maha Berkuasa
    Muridan = Maha Berkehendak
    Aliman = Maha Mengetahui
    Hayyan =  Maha Hidup
    Sami’an = Maha Mendengar
    Bashirun = Maha Melihat
    Mutakalliman = Maha Berfirman

  4. Apa alasannya manusia di larang memikirkan zat Allah tapi yang di perintahkan memikirkan makhluknya Allah ….sebutkan bunyi haditsnya!JAWAB :

    Salah satu masalah yang dianjurkan dalam al-Qur’an dan sebagian riwayat adalah supaya manusia memikirkan tentang penciptaan makhluk-makhluk Allah.
    Adapun terkait dengan zat Allah Swt, manusia dilarang untuk memikirkannya.

    Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam Bersabda”

    “Berpikirlah kalian tentang ciptaan Allah dan jangan sekali-kali berpikir tentang Allah, sebab memikirkan tentang Ar Rabb (Allah) akan menggoreskan keraguan dalam hati“.

    Berkata Al Imam Al Barbahari Rahimahullahu Ta’ala:

    والفكرة في الله بدعة لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم تفكروا في الخلق ولا تفكروا في الله فإن الفكرة في الرب تقدح الشك في القلب

    Dan memikirkan tentang Allah Azza wajalla adalah bid’ah berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.

    Yang jelas, bahwasanya berpikir itu selayaknya diarahkan kepada ciptaan Allah Azza wajalla bukan pada dzat Allah Azza wajalla. hendaknya kita membaca firman Allah,

    فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

    “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy Syuuraa: 11)

    Wajib bagi kita untuk berserah diri menerima ayat ini sehingga akal kita tidak meraba-raba sesuatu yang tidak layak untuk dipikirkan. Apabila Surga saja di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati seseorang padahal itu adalah makhluk Allah Azza wajalla, lantas bagaimana dzat Allah?!

  5. Untuk apakah Allah menciptakan manusia dan apa tujuannya?JAWAB :

    Allah menciptakan manusia dengan tujuan yang luar biasa. Dia menciptakan pria dan wanita pertama, yaitu Adam dan Hawa, untuk tinggal di sebuah taman yang indah. Allah ingin mereka beranak cucu, membuat seluruh bumi menjadi firdaus, dan mengurus binatang. Itulah yang juga Allah inginkan bagi semua manusia. Tujuan Allah belum berubah.​

    Allah menciptakan alam semesta (termasuk manusia) tidaklah dengan palsu dan sia-sia (QS. As-Shod ayat 27). Segala ciptaan-Nya mengandung maksud dan manfaat. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang paling mulia, sekaligus sebagai khalifah di muka bumi, manusia harus meyadari terhadap tujuan hidupnya. Dalam konteks ini, al-Qur’an menjelaskan, bahwa manusia memiliki beberapa tujuan hidup, diantaranya adalah sebagai berikut :

    – Menyembah Kepada Allah (Beriman)

    – Memanfaatkan Alam Semesta (Beramal)

    – Membentuk Sejarah Dan Peradaban (Berilmu)

Anna Ayu Aryani 1821498754-Jawablah pertanyaan ini dengan benar!

Bismillahirahmanirrahim 😊

1.Kenapa manusia perlu beragama? Jelaskan!

JAWAB :

Karena pada dasarnya manusia memiliki keterbatasan pengetahuan dalam banyak hal, baik mengenai sesuatu yang tampak maupun yang gaib, dan juga keterbatasan dalam memprediksi apa yang akan terjadi pada diri nya dan orang lain, dan sebagainya. Oleh karena keterbatasan itulah maka manusia perlu memerlukan agama untuk membantu dan memberikan pencerahan spiritual kepada diri nya.

Manusia membutuhkan agama tidak sekedar untuk kebaikan diri nya di hadapan Tuhan saja, melainkan juga untuk membantu dirinya dalam menghadapi bermacam-macam problema yang kadang-kadang tidak dapat dipahami nya. Di sinilah manusia diisyaratkan oleh diri dan alam nya bahwa Zat yang lebih unggul dari diri nya, Yang Maha Segala-galanya, seperti yang dijelaskan oleh para antropolog bahwa agama merupakan respons terhadap kebutuhan untuk mengatasi kegagalan yang timbul akibat ketidakmampuan manusia untuk memahami kejadian-kejadian atau peristiwwa-peristiwa yang rupa-rupa nya tidak dapat diketahui dengan tepat (Sulaiman dan Albuny, 1984 :8).

Selain daripada itu agama juga memberi isyarat kepada manusia dan alam bahwa ada Zat yang lebih unggul, Zat Yang Maha Segala-galanya, yang disitu manusia perlu bersandar kepad Dia melalui medium agama. Dengan kata lain perlu bersandar dan berpasrah (tawakal) kepada Dia melalui agama karena agama menjadi tempat bagi kita untuk mengadu dan berkomunikasi dengan Tuhan. Kepasrahan kita kepada Tuhan didasarkan pada suatu ajaran bahwa manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan.

  1. Menurut ulama ahlussunnah waljama’ah sifat wajib bagi Allah itu ada 20, sebutkan disertai artinya sifat-sifat yang anda ketahui?JAWAB :Wujud = Ada
    Qidam = Dahulu
    Baqa’ = Kekal
    Mukhalafatuhu lil hawaditsi = Berbeda dengan ciptaan-Nya
    Qiyamuhu binafsihi = Berdiri sendiri
    Wahdaniyyah = Mahaesa
    Qudrah = Maha Berkuasa
    Iradah = Maha Berkehendak
    Ilmu = Maha Mengetahui
    Hayat = Mahahidup
    Sama’ = Maha Mendengar
    Bashar = Maha Melihat
    Kalam = Maha Berbicara
    Qadiran = Maha Berkuasa
    Muridan = Maha Berkehendak
    Aliman = Maha Mengetahui
    Hayyan =  Maha Hidup
    Sami’an = Maha Mendengar
    Bashirun = Maha Melihat
    Mutakalliman = Maha Berfirman
  2. Apa alasannya manusia di larang memikirkan zat Allah tapi yang di perintahkan memikirkan makhluknya Allah ….sebutkan bunyi haditsnya!JAWAB :Salah satu masalah yang dianjurkan dalam al-Qur’an dan sebagian riwayat adalah supaya manusia memikirkan tentang penciptaan makhluk-makhluk Allah.
    Adapun terkait dengan zat Allah Swt, manusia dilarang untuk memikirkannya.

    Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam Bersabda”

    “Berpikirlah kalian tentang ciptaan Allah dan jangan sekali-kali berpikir tentang Allah, sebab memikirkan tentang Ar Rabb (Allah) akan menggoreskan keraguan dalam hati“.

    Berkata Al Imam Al Barbahari Rahimahullahu Ta’ala:

    والفكرة في الله بدعة لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم تفكروا في الخلق ولا تفكروا في الله فإن الفكرة في الرب تقدح الشك في القلب

    Dan memikirkan tentang Allah Azza wajalla adalah bid’ah berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.

    Yang jelas, bahwasanya berpikir itu selayaknya diarahkan kepada ciptaan Allah Azza wajalla bukan pada dzat Allah Azza wajalla. hendaknya kita membaca firman Allah,

    فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

    “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy Syuuraa: 11)

    Wajib bagi kita untuk berserah diri menerima ayat ini sehingga akal kita tidak meraba-raba sesuatu yang tidak layak untuk dipikirkan. Apabila Surga saja di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati seseorang padahal itu adalah makhluk Allah Azza wajalla, lantas bagaimana dzat Allah?!

  3. Untuk apakah Allah menciptakan manusia dan apa tujuannya?JAWAB :Allah menciptakan manusia dengan tujuan yang luar biasa. Dia menciptakan pria dan wanita pertama, yaitu Adam dan Hawa, untuk tinggal di sebuah taman yang indah. Allah ingin mereka beranak cucu, membuat seluruh bumi menjadi firdaus, dan mengurus binatang. Itulah yang juga Allah inginkan bagi semua manusia. Tujuan Allah belum berubah.​

    Allah menciptakan alam semesta (termasuk manusia) tidaklah dengan palsu dan sia-sia (QS. As-Shod ayat 27). Segala ciptaan-Nya mengandung maksud dan manfaat. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang paling mulia, sekaligus sebagai khalifah di muka bumi, manusia harus meyadari terhadap tujuan hidupnya. Dalam konteks ini, al-Qur’an menjelaskan, bahwa manusia memiliki beberapa tujuan hidup, diantaranya adalah sebagai berikut :

    – Menyembah Kepada Allah (Beriman)

    – Memanfaatkan Alam Semesta (Beramal)

    – Membentuk Sejarah Dan Peradaban (Berilmu)

  4. Dalam mempelajari agama yang benar harus melalui tahapan-tahapan yaitu iman, islam dan ihsan. Jelaskan makna iman, islam dan ihsan!JAWAB :
    • IMAN :

    Iman (asal kata  amana = percaya) orangnya dinamakan “Mukmin/mukminah”.

    Definisi Iman berdasarkan hadist merupakan tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan merupakan satu kesatuan.

    Para imam dan ulama telah mendefinisikan istilah iman ini, antara lain, seperti diucapkan oleh Imam Ali bin Abi Talib: “Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota.”

    Aisyah r.a. berkata: “Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota.”

    Imam al-Ghazali menguraikan makna iman: “Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota).”

    • ISLAM :

    Islam (asal kata aslama = selamat) orangnya dinamakan “Muslim/Muslimah”.

    Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah :

    الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، إذلالا وخضوعا

    “Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, dan taat serta patuh kepada-Nya, dengan penuh ketundukan dan perendahan diri”.

    • IHSAN :

    Ihsan (asal kata ahsana = baik) orangnya dinamakan “muhsin/muhsinah”.

    Ihsan (Arab: احسان; “kesempurnaan” atau “terbaik”) adalah seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.

    Ihsan adalah lawan dari isa’ah (berbuat kejelekan), yaitu seorang manusia mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain. Mencurahkan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan harta, ilmu, kedudukan dan badannya.

    Alhamdulillahirabillalamin 😊

Jawbalah pertanyaan ini dengan benar! – Elisa Akmaliah

1. PERTANYAAN

  1. Kenapa manusia perlu beragama? Jelaskan
  2. Dalam mempelajari agama yang benar harus melalui tahapan-tahapan yaitu iman, islam dan ihsan jelaskan makna iman,islam dan ihsan!
  3. Menurut ulama ahlussunnah waljama’ah sifat wajib bagi Allah itu ada 20, sebutkan disertai artinya sifat-sifat yang anda ketahui
  4. Apa alasannya manusia di larang memikirkan zat Allah tapi yang di perintahkan memikirkan makhluknya Allah ….sebutkan bunyi haditsnya!
  5. Untuk apakah Allah menciptakan manusia dan apa tujuannya?

2. STATUS

  • 100% Tercapai

3. KETERANGAN ATAU PERNYATAAN

  • Saya sudah mengerjakan tugas yang diberikan dengan baik.

4. BUKTI

  1. Kenapa manusia perlu beragama? Jelaskan!JAWAB :                                 Karena pada dasarnya manusia memiliki keterbatasan pengetahuan dalam banyak hal, baik mengenai sesuatu yang tampak maupun yang gaib, dan juga keterbatasan dalam memprediksi apa yang akan terjadi pada diri nya dan orang lain, dan sebagainya. Oleh karena keterbatasan itulah maka manusia perlu memerlukan agama untuk membantu dan memberikan pencerahan spiritual kepada diri nya.Manusia membutuhkan agama tidak sekedar untuk kebaikan diri nya di hadapan Tuhan saja, melainkan juga untuk membantu dirinya dalam menghadapi bermacam-macam problema yang kadang-kadang tidak dapat dipahami nya. Di sinilah manusia diisyaratkan oleh diri dan alam nya bahwa Zat yang lebih unggul dari diri nya, Yang Maha Segala-galanya, seperti yang dijelaskan oleh para antropolog bahwa agama merupakan respons terhadap kebutuhan untuk mengatasi kegagalan yang timbul akibat ketidakmampuan manusia untuk memahami kejadian-kejadian atau peristiwwa-peristiwa yang rupa-rupa nya tidak dapat diketahui dengan tepat (Sulaiman dan Albuny, 1984 :8).

    Selain daripada itu agama juga memberi isyarat kepada manusia dan alam bahwa ada Zat yang lebih unggul, Zat Yang Maha Segala-galanya, yang disitu manusia perlu bersandar kepad Dia melalui medium agama. Dengan kata lain perlu bersandar dan berpasrah (tawakal) kepada Dia melalui agama karena agama menjadi tempat bagi kita untuk mengadu dan berkomunikasi dengan Tuhan. Kepasrahan kita kepada Tuhan didasarkan pada suatu ajaran bahwa manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan.

  2. Dalam mempelajari agama yang benar harus melalui tahapan-tahapan yaitu iman, islam dan ihsan. Jelaskan makna iman, islam dan ihsan!             JAWAB :
    • IMAN :

    Iman (asal kata  amana = percaya) orangnya dinamakan “Mukmin/mukminah”.

    Definisi Iman berdasarkan hadist merupakan tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan merupakan satu kesatuan.

    Para imam dan ulama telah mendefinisikan istilah iman ini, antara lain, seperti diucapkan oleh Imam Ali bin Abi Talib: “Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota.”

    Aisyah r.a. berkata: “Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota.”

    Imam al-Ghazali menguraikan makna iman: “Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota).”

    • ISLAM :

    Islam (asal kata aslama = selamat) orangnya dinamakan “Muslim/Muslimah”.

    Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah :

    الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، إذلالا وخضوعا

    “Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, dan taat serta patuh kepada-Nya, dengan penuh ketundukan dan perendahan diri”.

    • IHSAN :

    Ihsan (asal kata ahsana = baik) orangnya dinamakan “muhsin/muhsinah”.

    Ihsan (Arab: احسان; “kesempurnaan” atau “terbaik”) adalah seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.

    Ihsan adalah lawan dari isa’ah (berbuat kejelekan), yaitu seorang manusia mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain. Mencurahkan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan harta, ilmu, kedudukan dan badannya.

  3. Menurut ulama ahlussunnah waljama’ah sifat wajib bagi Allah itu ada 20, sebutkan disertai artinya sifat-sifat yang anda ketahui?JAWAB :Wujud = Ada
    Qidam = Dahulu
    Baqa’ = Kekal
    Mukhalafatuhu lil hawaditsi = Berbeda dengan ciptaan-Nya
    Qiyamuhu binafsihi = Berdiri sendiri
    Wahdaniyyah = Mahaesa
    Qudrah = Maha Berkuasa
    Iradah = Maha Berkehendak
    Ilmu = Maha Mengetahui
    Hayat = Mahahidup
    Sama’ = Maha Mendengar
    Bashar = Maha Melihat
    Kalam = Maha Berbicara
    Qadiran = Maha Berkuasa
    Muridan = Maha Berkehendak
    Aliman = Maha Mengetahui
    Hayyan =  Maha Hidup
    Sami’an = Maha Mendengar
    Bashirun = Maha Melihat
    Mutakalliman = Maha Berfirman
  4. Apa alasannya manusia di larang memikirkan zat Allah tapi yang di perintahkan memikirkan makhluknya Allah ….sebutkan bunyi haditsnya! JAWAB :Salah satu masalah yang dianjurkan dalam al-Qur’an dan sebagian riwayat adalah supaya manusia memikirkan tentang penciptaan makhluk-makhluk Allah.
    Adapun terkait dengan zat Allah Swt, manusia dilarang untuk memikirkannya.Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam Bersabda”

    “Berpikirlah kalian tentang ciptaan Allah dan jangan sekali-kali berpikir tentang Allah, sebab memikirkan tentang Ar Rabb (Allah) akan menggoreskan keraguan dalam hati“.

    Berkata Al Imam Al Barbahari Rahimahullahu Ta’ala:

    والفكرة في الله بدعة لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم تفكروا في الخلق ولا تفكروا في الله فإن الفكرة في الرب تقدح الشك في القلب

    Dan memikirkan tentang Allah Azza wajalla adalah bid’ah berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.

    Yang jelas, bahwasanya berpikir itu selayaknya diarahkan kepada ciptaan Allah Azza wajalla bukan pada dzat Allah Azza wajalla. hendaknya kita membaca firman Allah,

    فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

    “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy Syuuraa: 11)

    Wajib bagi kita untuk berserah diri menerima ayat ini sehingga akal kita tidak meraba-raba sesuatu yang tidak layak untuk dipikirkan. Apabila Surga saja di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati seseorang padahal itu adalah makhluk Allah Azza wajalla, lantas bagaimana dzat Allah?!

  5. Untuk apakah Allah menciptakan manusia dan apa tujuannya?            JAWAB :Allah menciptakan manusia dengan tujuan yang luar biasa. Dia menciptakan pria dan wanita pertama, yaitu Adam dan Hawa, untuk tinggal di sebuah taman yang indah. Allah ingin mereka beranak cucu, membuat seluruh bumi menjadi firdaus, dan mengurus binatang. Itulah yang juga Allah inginkan bagi semua manusia. Tujuan Allah belum berubah.​Allah menciptakan alam semesta (termasuk manusia) tidaklah dengan palsu dan sia-sia (QS. As-Shod ayat 27). Segala ciptaan-Nya mengandung maksud dan manfaat. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang paling mulia, sekaligus sebagai khalifah di muka bumi, manusia harus meyadari terhadap tujuan hidupnya. Dalam konteks ini, al-Qur’an menjelaskan, bahwa manusia memiliki beberapa tujuan hidup, diantaranya adalah sebagai berikut :

    – Menyembah Kepada Allah (Beriman)

    – Memanfaatkan Alam Semesta (Beramal)

    – Membentuk Sejarah Dan Peradaban (Berilmu)

Tatu Dita Oktaviani – Jawablah Pertanyaan Ini Dengan Benar!

1. PERTANYAAN

  1. Kenapa manusia perlu beragama? Jelaskan
  2. Dalam mempelajari agama yang benar harus melalui tahapan-tahapan yaitu iman, islam dan ihsan jelaskan makna iman,islam dan ihsan!
  3. Menurut ulama ahlussunnah waljama’ah sifat wajib bagi Allah itu ada 20, sebutkan disertai artinya sifat-sifat yang anda ketahui
  4. Apa alasannya manusia di larang memikirkan zat Allah tapi yang di perintahkan memikirkan makhluknya Allah ….sebutkan bunyi haditsnya!
  5. Untuk apakah Allah menciptakan manusia dan apa tujuannya?

2. STATUS

  • 100% Tercapai

3. KETERANGAN ATAU PERNYATAAN

  • Saya sudah mengerjakan tugas yang diberikan dengan baik.

4. BUKTI

  1. Kenapa manusia perlu beragama? Jelaskan!

    JAWAB :

    Karena pada dasarnya manusia memiliki keterbatasan pengetahuan dalam banyak hal, baik mengenai sesuatu yang tampak maupun yang gaib, dan juga keterbatasan dalam memprediksi apa yang akan terjadi pada diri nya dan orang lain, dan sebagainya. Oleh karena keterbatasan itulah maka manusia perlu memerlukan agama untuk membantu dan memberikan pencerahan spiritual kepada diri nya.

    Manusia membutuhkan agama tidak sekedar untuk kebaikan diri nya di hadapan Tuhan saja, melainkan juga untuk membantu dirinya dalam menghadapi bermacam-macam problema yang kadang-kadang tidak dapat dipahami nya. Di sinilah manusia diisyaratkan oleh diri dan alam nya bahwa Zat yang lebih unggul dari diri nya, Yang Maha Segala-galanya, seperti yang dijelaskan oleh para antropolog bahwa agama merupakan respons terhadap kebutuhan untuk mengatasi kegagalan yang timbul akibat ketidakmampuan manusia untuk memahami kejadian-kejadian atau peristiwwa-peristiwa yang rupa-rupa nya tidak dapat diketahui dengan tepat (Sulaiman dan Albuny, 1984 :8).

    Selain daripada itu agama juga memberi isyarat kepada manusia dan alam bahwa ada Zat yang lebih unggul, Zat Yang Maha Segala-galanya, yang disitu manusia perlu bersandar kepad Dia melalui medium agama. Dengan kata lain perlu bersandar dan berpasrah (tawakal) kepada Dia melalui agama karena agama menjadi tempat bagi kita untuk mengadu dan berkomunikasi dengan Tuhan. Kepasrahan kita kepada Tuhan didasarkan pada suatu ajaran bahwa manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan.

  2. Dalam mempelajari agama yang benar harus melalui tahapan-tahapan yaitu iman, islam dan ihsan. Jelaskan makna iman, islam dan ihsan!

    JAWAB :

    • IMAN :

    Iman (asal kata  amana = percaya) orangnya dinamakan “Mukmin/mukminah”. 

    Definisi Iman berdasarkan hadist merupakan tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan merupakan satu kesatuan.

    Para imam dan ulama telah mendefinisikan istilah iman ini, antara lain, seperti diucapkan oleh Imam Ali bin Abi Talib: “Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota.”

    Aisyah r.a. berkata: “Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota.”

    Imam al-Ghazali menguraikan makna iman: “Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota).”

    • ISLAM :

    Islam (asal kata aslama = selamat) orangnya dinamakan “Muslim/Muslimah”.

    Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah :

    الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، إذلالا وخضوعا

    “Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, dan taat serta patuh kepada-Nya, dengan penuh ketundukan dan perendahan diri”.

    • IHSAN :

    Ihsan (asal kata ahsana = baik) orangnya dinamakan “muhsin/muhsinah”.

    Ihsan (Arab: احسان; “kesempurnaan” atau “terbaik”) adalah seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.

    Ihsan adalah lawan dari isa’ah (berbuat kejelekan), yaitu seorang manusia mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain. Mencurahkan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan harta, ilmu, kedudukan dan badannya.

  3. Menurut ulama ahlussunnah waljama’ah sifat wajib bagi Allah itu ada 20, sebutkan disertai artinya sifat-sifat yang anda ketahui?

    JAWAB :

    Wujud = Ada
    Qidam = Dahulu
    Baqa’ = Kekal
    Mukhalafatuhu lil hawaditsi = Berbeda dengan ciptaan-Nya
    Qiyamuhu binafsihi = Berdiri sendiri
    Wahdaniyyah = Mahaesa
    Qudrah = Maha Berkuasa
    Iradah = Maha Berkehendak
    Ilmu = Maha Mengetahui
    Hayat = Mahahidup
    Sama’ = Maha Mendengar
    Bashar = Maha Melihat
    Kalam = Maha Berbicara
    Qadiran = Maha Berkuasa
    Muridan = Maha Berkehendak
    Aliman = Maha Mengetahui
    Hayyan =  Maha Hidup
    Sami’an = Maha Mendengar
    Bashirun = Maha Melihat
    Mutakalliman = Maha Berfirman

  4. Apa alasannya manusia di larang memikirkan zat Allah tapi yang di perintahkan memikirkan makhluknya Allah ….sebutkan bunyi haditsnya!

    JAWAB :

    Salah satu masalah yang dianjurkan dalam al-Qur’an dan sebagian riwayat adalah supaya manusia memikirkan tentang penciptaan makhluk-makhluk Allah.
    Adapun terkait dengan zat Allah Swt, manusia dilarang untuk memikirkannya.

    Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam Bersabda”

    “Berpikirlah kalian tentang ciptaan Allah dan jangan sekali-kali berpikir tentang Allah, sebab memikirkan tentang Ar Rabb (Allah) akan menggoreskan keraguan dalam hati“.

    Berkata Al Imam Al Barbahari Rahimahullahu Ta’ala:

    والفكرة في الله بدعة لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم تفكروا في الخلق ولا تفكروا في الله فإن الفكرة في الرب تقدح الشك في القلب

    Dan memikirkan tentang Allah Azza wajalla adalah bid’ah berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.

    Yang jelas, bahwasanya berpikir itu selayaknya diarahkan kepada ciptaan Allah Azza wajalla bukan pada dzat Allah Azza wajalla. hendaknya kita membaca firman Allah,

    فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

    “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy Syuuraa: 11)

    Wajib bagi kita untuk berserah diri menerima ayat ini sehingga akal kita tidak meraba-raba sesuatu yang tidak layak untuk dipikirkan. Apabila Surga saja di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati seseorang padahal itu adalah makhluk Allah Azza wajalla, lantas bagaimana dzat Allah?!

  5. Untuk apakah Allah menciptakan manusia dan apa tujuannya?

    JAWAB :

    Allah menciptakan manusia dengan tujuan yang luar biasa. Dia menciptakan pria dan wanita pertama, yaitu Adam dan Hawa, untuk tinggal di sebuah taman yang indah. Allah ingin mereka beranak cucu, membuat seluruh bumi menjadi firdaus, dan mengurus binatang. Itulah yang juga Allah inginkan bagi semua manusia. Tujuan Allah belum berubah.​

    Allah menciptakan alam semesta (termasuk manusia) tidaklah dengan palsu dan sia-sia (QS. As-Shod ayat 27). Segala ciptaan-Nya mengandung maksud dan manfaat. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang paling mulia, sekaligus sebagai khalifah di muka bumi, manusia harus meyadari terhadap tujuan hidupnya. Dalam konteks ini, al-Qur’an menjelaskan, bahwa manusia memiliki beberapa tujuan hidup, diantaranya adalah sebagai berikut :

    – Menyembah Kepada Allah (Beriman)

    – Memanfaatkan Alam Semesta (Beramal)

    – Membentuk Sejarah Dan Peradaban (Berilmu)

Tugas Agama Islam

Jawabalah pertanyaan dibawah ini dengan benar !

  1. Kenapa manusia perlu beragama? Jelaskan
  2. Dalam mempelajari agama yang benar harus melalui tahapan-tahapan yaitu iman, islam dan ihsan jelaskan makna iman,islam dan ihsan!
  3. Menurut ulama ahlussunnah waljama’ah sifat wajib bagi Allah itu ada 20, sebutkan disertai artinya sifat-sifat yang anda ketahui
  4. Apa alasannya manusia di larang memikirkan zat Allah tapi yang di perintahkan memikirkan makhluknya Allah ….sebutkan bunyi haditsnya!
  5. Untuk apakah Allah menciptakan manusia dan apa tujuannya?

Status : 100%

Keterangan : saya telah mengerjakan tugas tersebut

Bukti :

1. Mengapa Manusia Perlu Beragama ?

Perkataan atau pertanyaan di atas sangat tepat dan pada tempatnya, mengingat banyak orang yang beragama, tetapi tidak mengenal agamanya dengan baik. Padahal, mengenai agama seharusnya berada pada tahapan awal sebelum mengamalkan ajarannya. Tetapi secara realita, keberagamaan sebagian besar dari mereka tidak sebagaimana mestinya. Namun sebelum pertanyaan di atas, ada baiknya terlebih dahulu membicarakan sedikit tentang agama itu sendiri.

Kata “agama” berasal dari bahasa Sanskerta, āgama yang berarti “tradisi”. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan. Dalam masyarakat Indonesia, selainkan kata agama juga dikenal kata “Din”. Din berasal dari bahasa Arab dan dalam Alquran disebutkan sebanyak 92 kali. Menurut arti bahasa (etimologi), din diartikan sebagai balasan dan ketaatan. Din mencakup tiga dimensi : (1) keyakinan (akidah); (2) hukum (syariat); dan (3) norma (akhlak). Ketiga dimensi tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga satu sama lain lain saling berkaitan, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Dengan menjalankan din, kebahagiaan, kedamaian, dan ketenangan akan teraih di dunia dan di akhirat. Dari ketiga dimensi din tersebut, akidah menduduki posisi yang paling prinsip dan menentukan. Dalam pengertian bahwa yang menentukan seseorang itu mutadayyin atau tidak adalah akidahnya. Dengan kata lain, yang memisahkan seseorang yang beragama dari yang tidak beragama (ateis) adalah akidahnya. Lebih khusus lagi, bahwa akidahlah yang menjadikan orang itu disebut Muslim, Kristiani, Yahudi atau yang lainnya.

Marilah kita kembali pada pertanyaan semula “Mengapa Manusia Perlu Beragama ?”. Lazimnya, kita beragama cuma ikut orang tua saja. Jika kita lahir di timur dari keluarga islam, maka kita islam. Jika kita lahir di barat dari keluarga christian, maka kita christian. Jika kita lahir di Himalaya dari keluarga budha, maka kita jadi bhisksu. Bila kita cermati, kecenderungan beragama ini merupakan fakta yang ada pada tiap diri manusia. Sadar atau tidak, manusia punya kecenderungan untuk menghubungkan dirinya dengan kekuatan yang Mahasempurna dan Mahasegalanya—sebagai bentuk ketidakberdayaannya.

Agama membentuk jiwanya ber-budipekerti dengan adab yang sempurna baik dengan tuhan-nya maupun lingkungan masyarakat. Agama sudah sangat sempurna dikarenakan dapat menuntun umat-nya bersikap dengan baik dan benar serta dibenarkan. keburukan cara ber-sikap dan penyampaian si pemeluk agama dikarenakan ketidakpahaman tujuan daripada agama-nya. memburukan serta membandingkan agama satu dengan yang lain adalah cerminan kebodohan si pemeluk agama.

2. IMAN, ISLAM, IHSAN

– Pengertian Iman : Dalam hadits di atas, Rasulullah Saw mengemukakan Rukun Iman (Arkanul Iman), yakni percaya kepada Allah SWT, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari kiamat, dan takdir.
Kata iman berasal dari bahasa Arab, yaitu amana-yu’minu yang artinya percaya atau menerima.
Menurut istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan memperbuat dengan anggota badan (beramal). Tashdiqun bil qolbi ikrarun bil lisan wa ‘amalun bil arkan.
Orang beriman disebut mukmin.

– Pengertian Islam : Islam secara bahasa artinya berserah diri dan damai. Islam adalah agama Allah SWT.
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran:19).
Kata Islam berasal dari bahasa Arab yaitu aslama yang artinya patuh, pasrah, menyerah diri, atau selamat.
Pemeluk Islam atau orang yang tunduk dan patuh berserah diri kepada Allah disebut Muslim.

Pengertian Ihsan :  Ihsan berasal dari bahasa Arab yaitu ahsan – yuhsinu – ihsanan yang artinya kebaikan atau berbuat baik.
Menurut istilah, ihsan ialah berbakti dan mengabdikan diri kepada Allah SWT atas dasar kesadaran dan keikhlasan. Pelakunya disebut Muhsin.
Ihsan atau kebaikan tertinggi adalah seperti disabdakan Rasulullah Saw: “Ihsan hendaknya kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.” (HR. Bukhari).

Selain dalam hal ibadah kepada Allah SWT, ihsan juga bermakna akhlak atau perilaku baik kepada sesama sebagai pengamalan iman dan Islam. Rasulullah Saw bersabda :
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بالله وَاليَومِ الآخرِ ، فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ باللهِ وَاليَومِ الآخِرِ ، فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ باللهِ وَاليَومِ الآخِرِ ، فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَسْكُتْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhir, hendaknya ia tidak menyakiti tetangganya, barangisiapa yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam.” (Muttafaq ‘alaih).

3. Sifat wajib bagi Allah 

Al-Wujud ( ada ), Al Qidam (terdahulu), Al Baqo’ (kekal), Al Mukhalafatu lil-hawadits (Tidak serupa dengan makhluk-Nya), Al Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya), Al Wahdaniyyah (Esa), Al Qudrat (Kuasa), Al Iroodah (Berkehendak), Al Ilmu (Mengetahui), Al Hayat (Hidup), As-Sama’ (Mendengar), Al Bashor (Melihat), Al Kalam (Berbicara), Qoodirun : Yang Memiliki sifat Qudrat, Muriidun: Yang Memiliki Sifat Iroodah, ‘Aalimun: Yang Mempunyai Ilmu, Hayyun: yang Hidup, Samii’un: Yang Mendengar, Bashiirun: Yang Melihat, Mutakallimun: Yang Berkata-kata.

4. Salah satu masalah yang dianjurkan dalam al-Qur’an dan sebagian riwayat adalah supaya manusia memikirkan tentang penciptaan makhluk-makhluk Allah.
Adapun terkait dengan zat Allah Swt, manusia dilarang untuk memikirkannya. Seperti misalnya dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda, “Pikirkanlah tentang penciptaan Allah Swt, namun jangan memikirkan tentang zat Allah Swt.”[2].

والفكرة في الله بدعة لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم تفكروا في الخلق ولا تفكروا في الله فإن الفكرة في الرب تقدح الشك في القلب

5. Tujuan Allah Menciptakan Manusia

Menyembah Kepada Allah (Beriman)

Keberadaan manusia di muka bumi ini bukanlah ada dengan sendirinya. Manusia diciptakan oleh Allah, dengan dibekali potensi dan infrastruktur yang sangat unik. Keunikan dan kesempurnaan bentuk manusia ini bukan saja dilihat dari bentuknya, akan tetapi juga dari karakter dan sifat yang dimiliki oleh manusia. Sebagai ciptaan, manusia dituntut memiliki kesadaran terhadap posisi dan kedudukan dirinya di hadapan Tuhan. Dalam konteks ini, posisi manusia dihadapan Tuhan adalah bagaikan “hamba” dengan “majikan” atau “abdi” dengan “raja”, yang harus menunjukan sifat pengabdiaan dan kepatuhan.

Sebagai agama yang haq, Islam menegaskan bahwa posisi manusia di dunia ini adalah sebagai ‘abdullah (hamba Allah). Posisi ini menunjukan bahwa salah satu tujuan hidup manusia di dunia adalah untuk mengabdi atau beribadah kepada Allah. Yang dimaksud dengan mengabdi kepada Allah adalah taat dan patuh terhadap seluruh perintah Allah, dengan cara menjalankan seluruh perintah-perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya dalam segala aspek kehidupan. Dalam hal ini, Allah Swt. menjelaskan dalam firman-Nya, bahwa tujuan hidup manusia adalah semata-mata untuk mengabdi (beribadah) kepada-Nya (QS. Adz-Dzariyat ayat 56 dan QS. Al-Bayyinah ayat 5).

Makan beribadah sebagaimana dikemukakan di atas (mentaati segala perintah dan menjauhi larangan Allah) merupakan makna ibdah secara umum. Dalam tataran praktis, ibadah secara umum dapat diimplementasikan dalam setiap aktivitas yang diniatkan untuk menggapai keridlaan-Nya, seperti bekerja secara professional, mendidik anak, berdakwah dan lain sebagainya. Dengan demikian, misi hidup manusia untuk beribadah kepada Allah dapat diwujudkan dalam segala aktivitas yang bertujuan mencari ridla Allah (mardlotillah).

Sedangkan secara khusus, ibadah dapat dipahami sebagai ketaatan terhadap hukum syara’ yang mengatur hubungan vertical-transendental (manusia dengan Allah). Hukum syara’ ini selalu berkaitan dengan amal manusia yang diorientasikan untuk menjalankan kewajiban ‘ubudiyah manusia, seperti menunaikan ibadah shalat, menjalankan ibadah puasa, memberikan zakat, pergi haji dan lain sebagainya.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan hidup manusia yang pertama adalah menyembah kepada Allah. Dalam pengertian yang lebih sederhana, tujuan ini dapat disebut dengan “beriman”. Manusia memiliki keharusan menjadi individu yang beriman kepada Allah (tauhid). Beriman merupakan kebalikan dari syirik, sehingga dalam kehidupannya manusa sama sekali tidak dibenarkan menyekutukan Allah dengan segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini (Syirik).

Memanfaatkan Alam Semesta (Beramal)

Manusia adalah puncak ciptaan dan makhluk Allah yang tertinggi (QS. at-Tien ayat 4). Sebagai makhluk tertinggi, disamping menjadi hamba Allah, manusia juga dijadikan sebagai khalifah atau wakil Tuhan dimuka bumi (QS. al-Isra’ ayat 70). Di samping itu, Allah juga menegaskan bahwa manusia ditumbuhkan (diciptakan) dari bumi dan selanjutnya diserahi untuk memakmurkannya (QS. Hud ayat 16 dan QS. al-An’am ayat 165). Dengan demikian, seluruh urusan kehidupan manusia dan eksistensi alam semesta di dunia ini telah diserahkan oleh Allah kepada manusia.

Perintah memakmurkan alam, berarti perintah untuk menjadikan alam semesta sebagai media mewujudkan kemaslahatan hidup manusia di muka bumi. Al-Qur’an menekankan bahwa Allah tidak pernah tak perduli dengan ciptaan-Nya. Ia telah menciptakan bumi sebanyak Ia menciptakan langit, yang kesemuanya dimaksudkan untuk menjamin kesejahteraan lahir dan batin manusia. Ia telah menciptakan segala sesuatu untuk kepentingan manusia. Bintang diciptakan untuk membantu manusia dalam pelayaran, bulan dan matahari diciptakan sebagai dasar penanggalan. Demikian juga dengan realitas kealaman yang lainnya, diciptakan adalah dengan membekal maksud untuk kemaslahatan manusia.

Untuk menjadikan realitas kealaman dapat dimanfaatkan oleh manusia, Allah telah membekalinya dengan potensi akal. Di samping itu, Allah juga telah mengajarkan kepada manusia terhadap nama-nama benda yang ada di alam semesta. Semua ini diberikan oleh Allah adalah sebagai bekal untuk menjadikan alam semesta sebagai media membentuk kehidupan yang sejahtera lahir dan batin. Dalam hal ini Allah menegaskan bahwa manusia harus mengembara dimuka bumi, dan menjadikan seluruh fenomena kelaman sebagai pelajaran untuk meraih kebahagian hidupnya (QS. Al-Ankabut ayat 20 dan QS. Al-Qashash ayat 20).

Berdasarkan uraian di atas, maka sangat jelas bahwa dalam kehidupannya manusia memiliki tujuan untuk memakmurkan alam semesta. Implementasi tujuan ini dapat diwujudkan dalam bentuk mengambil i’tibar (pelajaran), menunjukan sikap sportif dan inovatif serta selalu berbuat yang bermanfaat untuk diri dan lingkungannya. Dalam konteks hubungannya dengan alam semesta, dalam kehidupannya manusia memiliki tujuan untuk melakukan kerja perekayasaan agar segala yang ada di alam semesta ini dapat bermanfaat bagi kehidupannya. Dengan kata lain, tujuan hidup manusia yang semacam ini dapat dikatakan dengan tujuan untuk “beramal”.

Membentuk Sejarah Dan Peradaban (Berilmu)

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, Allah menciptakan alam semesta ini dengan pasti dan tidak ada kepalsuan di dalamnya (QS. Shod ayat 27). Oleh Karena itu, alam memiliki eksistensi yang riil dan obyektif, serta berjalan mengikuti hukum-hukum yang tetap (sunnatullah). Di samping itu, sebagai ciptaan dari Dzat yang merupakan sebaik-baiknya pencipta (QS. al-Mukminun ayat 14), alam semesta mengandung nilai kebaikan dan nilai keteraturan yang sangat harmonis. Nilai ini diciptakan oleh Allah untuk kepentingan manusia, khususnya bagi keperluan perkembangan sejarah dan peradabannya (QS. Luqman ayat 20). Oleh karena itu, salah satu tujuan hidup manusia menurut al-Qur’an di muka bumi ini adalah melakukan penyelidikan terhadap alam, agar dapat dimengerti hukum-hukum Tuhan yang berlaku di dalamnya, dan selanjutnya manusia memanfaatkan alam sesuai dengan hukum-hukumnya sendiri, demi kemajuan sejarah dan peradabannya.

Proses pemanfaatan alam semesta dalam kehidupan manusia diwujudkan dengan perbuatan dan aktivitas riil yang memiliki nilai guna. Perbuatan atau aktivitas riil yang dijalankan manusia dimuka bumi ini selanjutnya membentuk rentetan peristiwa, yang disebut dengan “sejarah”. Dunia adalah wadah bagi sejarah, dimana manusia menjadi pemilik atau rajanya. Hidup tanpa sejarah adalah kehidupan yang dialami oleh manusia setelah kematian. Karena dalam kehidupan pasca kematian manusia hanya diharuskan mempertanggungjawabkan terhadap sejarah yang telah dibuat atau dibentuk selama dalam kehidupannya di dunia. Dengan demikian, dalam kehidupannya di dunia, manusia juga memiliki tujuan untuk membentuk sejarah dan peradabannya yang baik, dan selanjutnya harus dipertanggungjawabkan di hadapatn Tuhannya.

Urain dapat membentuk sejarahnya, manusia harus selalu iqra’ atau membaca alam semesta. Dengan kata lain, manusia harus menjadikan alam semesta sebagai media mengembangkan ilmu dan pengetahuannya. Oleh karena itu, tujuan manusia membentuk sejarah dan peradaban ini dapat dikatakan sebagai tujuan menjadi manusia yang “berilmu”.

Berdasarkan uraian tentang tujuan-tujuan hidup manusia di atas, dapat ditarik benang merah, bahwa menurut al-Qur’an manusia setidaknya memiliki 3 tujuan dalam hidupnya. Ketiga tujuan tersebut adalah; pertama, menyembah kepada Allah Swt. (beriman). Kedua, memakmurkan alam semesta untuk kemaslahatan (beramal) dan Ketiga, membentuk sejarah dan peradabannya yang bermartabat (berilmu). Dengan kata lain, menurut al-Qur’an, tugas atau tujuan pokok hidup manusia dimuka bumi ini sebenarnya sangatlah sederhana, yakni menjadi manusia yang “beriman”, “beramal” dan “berilmu”. Keterpaduan ketiga tujuan hidup manusia inilah yang menjadikan manusia memiliki eksistensi dan kedudukan yang berbeda dari makhluk Allah lainnya.