Tugas Agama Pertemuan Ke-5 | Rifky Nurfaizi – 1933322204

Pertanyaan:

  1. Sebutkan dan tuliskan ayat yang menceritakan proses kejadian manusia, kemudian terjemahkan maknanya.
  2. Sebutkan tiga unsur pembentuk manusia dan jelaskan satu persatu.
  3. sebutkan unsur pembeda manusia dengan mahluk lain, jelaskan.
  4. mengapa manusia disebut sebagai khalifah sebagaimana terdapat surat Al-Baqarah ayat 30, jelaskan .

Status: 100%

Keterangan:

Telah mengerjakan tugas

Bukti:

  1. Al-Insan ayat 1

    هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا

    Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?

    Al-Insan ayat 2

    إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

    Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
  2. Jasmani adalah segala bentuk yang berhubungan dengan unsur biologi yang menyusun Manusia
    Ruhani/Psikis adalah bagian dari manusia yang bukan berupa jasmani, Ruh ini mencakup Pikiran dan Kepribadian
    Nafs
  3. Manusia diciptakan dengan diberi akal sehingga sesuatu yang dilakukan oleh manusia haruslah berdasarkan akal pikirannya
    Allah menciptakan Manusia untuk mengabdi pada Allah
    Manusia sejatinya senantiasa mencari kebenaran dan diberikan pilihan oleh Allah swt
  4. Manusia disebut sebagai khalifah sebagaimana yang telah disebutkan dalam Q.S Al-Baqarah ayat 30 ialah sebagai makhluk yang memimpin bumi dengan tugas memakmurkan bumi atas dasar ketaatan kepada Allah swt

Tugas Pertemuan 3 | Rifky Nurfaizi – 1933322204

Pertanyaan :

  1. Apa saja yang termasuk sumber pokok hukum Islam, sebutkan dan jelaskan
  2. Sebutkan 4 sumber hukum Islam yang disepakati.
  3. Sebutkan dan jelaskan minimal 3 hukum islam yang tidak disepakati
  4. Sebutkan 6 macam hukum Islam, dan jelaskan satu demi satu

Status: 100%

Keterangan: Telah memahami dan mengerjakan tugas yang diberikan

Bukti/Jawaban :

  1. Al – Qur’an adalah kalam Allah swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui malaikat Jibril, sebagai mukjizat dan sumber hukum serta sebagai pedoman hidup bagi pemeluk Islam, membacanya bernilai ibadah kepada Allah.
    B. As-Sunnah(Hadits) menurut bahasa artinya perjalanan, pekerjaan atau cara. Sedangkan sunah menurut istilah syara’  ialah perkataan Nabi Muhammad saw., perbuatannya dan keterangannya yaitu sesuatu yang dikatakan atau diperbuat oleh sahabat dan ditetapkan oleh nabi, serta nabi tidak menegurnya. Hal ini sebagai bukti bahwa perbuatan tersebut hukumnya tidak melanggar
  2. Al-Qur’an, Sunnah (Hadits), Ijma’ dan Qiyas
  3. Istihsan adalah kecenderungan seseorang pada sesuatu karena menganggapnya lebih baik, dan ini bisa bersifat lahiriah (hissiy) ataupun maknawiah
    B. Istishab menurut Imam Asy-Syaukani ialah tetap berlakunya suatu keadaan selama belum ada yang mengubahnya.
    C. Urf merupakan istilah Islam yang dimaknai dengan adat kebiasaan. ‘Urf terbagi menjadi Ucapan atau Perbuatan dilihat dari segi objeknya, menjadi Umum atau Khusus dari segi cakupannya, menjadi Sah atau Rusak dari segi keabsahan menurut syariat. Para ulama ushul fiqih bersepakat bahwa Adat (‘urf) yang sah ialah yang tidak bertentangan dengan syari’at
  4. Wajib atau Fardhu merupakan status hukum yang harus dilakukan oleh mereka yang memenuhi syarat-syarat wajibnya. Syarat wajib yang dimaksud adalah orang yang sudah mukallaf, yaitu seorang muslim yang sudah dewasa dan berakal sehat. Jika kita mengerjakan perkara yang wajib maka akan mendapat pahala. Namun bila ditinggalkan maka akan mendapat dosa.
    B. Sunnah adalah perkara yang dianjurkan bagi umat Islam. Artinya, jika dikerjakan maka akan mendapatkan pahala, namun jika tidak dikerjakan menyebabkan kerugian.
    C. Haram adalah suatu hal yang dilarang dan tidak boleh dilakukan oleh umat Islam. Haram termasuk status hukum dimana sebuah perkara tidak boleh dikerjakan. Jika dilakukan maka akan mendapat dosa.
    D. Makruh adalah suatu perkara yang dianjurkan untuk tidak dilakukan. Jika tidak dilakukan tidak berdosa namun jika ditinggalkan akan mendapat pahala.
    E. Mubah artinya boleh. Dalam islam mubah merupakan sebuah hukum dimana seorang muslim boleh mengerjakan suatu perkara, tanpa mendapat pahala ataupun dosa.

SKuP – Siskha Nuristiana

Bismillah 🙂 Hello guys🤗 My name is Siskha Nuristiana, commonly called Siskha, I was born in Boyolali on December 8, 2001 I was still young, I am the first child of two siblings, my hobby is listening to music, in front of the laptop, reading sometimes hehe ^^

Now I study at Raharja University, Faculty of Science and Technology, Department of Information Systems, Concentration in Business Intelligence, oath I initially wanted to enter mavib when I was on the list at Raharja University, but because of the full Mavib on the list I already took Business Intelligence I hope I can deepen the science of Business Intelligence: v

 

Tugas Pertemuan 4

PERTANYAAN .

  1. Jelaskan makna Thaharah, Shaum, Shalat,Haji dan Umrah!
  2. Tunjukan dalil-dalil Al-Qur’an maupun hadits tentang Thaharah, Shaum, Shalat,Haji dan Umrah!
  3. sebutkan hukum macam-macam air yang boleh digunakan untuk bersuci dan tidak boleh di gunakan untuk bersuci!
  4. Sebutkan 7 jenis air yang dapat di gunakan untuk bersuci!
  5. Sebutkan macam-macam najis dan bagaimana cara membersihkannya!
  6. Jelaskan arti shalat dan dalilnya!
  7. Jelaskan tentang syarat dan rukun shalat!
  8. Sebutkan macam-macam (nama-nama) shalat sunah!
  9. Apa Arti Puasa (Shaum) dan sebutksan dalil  tentang puasa?
  10. Sebutkan macam-macam puasa wajib dan puasa sunah!

JAWABAN.

  1. -Secara bahasa Thaharah artinya membersihkan kotoran, baik kotoran yang berwujud maupun yang tidak berwujud. Secara istilah Thaharah artinya menghilangkan hadas, najis, dan kotoran (dari tubuh, yang menyebabkan tidak sahnya ibadah) menggunakan air atau tanah yang bersih dan suci
    -Saum ialah menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan syarat tertentu untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim
    -Shalat secara bahasa bermakna doa, sedangkan secara istilah bermakna, “ibadah yang berisikan rangkaian gerakan dan doa, diawali dengan takbir, dan diakhiri dengan salam” .
    -Haji adalah perjalanan menuju rumah Allah (Baitullah) yang suci untuk melaksanakan ritual ibadah yang terdiri dari perbuatan dan perkataan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dilaksanakan pada Bulan Haji (Dzulhijjah)
    -Umrah adalah salah satu kegiatan ibadah dalam agama Islam Hampir mirip dengan ibadah haji, ibadah ini dilaksanakan dengan cara melakukan beberapa ritual ibadah di kota suci Mekkah, khususnya di Masjidil Haram.
  2. -Dalil dalil Thaharah
    Q.S Al-Baqorah ayat 222:

    Dalil Hadits

    -Dalil dalil Shaum
    Q.S Al-Baqarah ayat 183

    Dalil Hadits Riwayat Al-Bukhari

    -Dalil dalil Shalat
    Q.S

    Dalil Hadits

    -Dalil dalil Haji
    Q.S

    Dalil Hadits

    -Dalil dalil Umrah
    Q.S

    Dalil Hadits

  3. – Air Muthlaq
    -Air Musta’mal
    -Air yang bercampur benda suci
    -Air Mutanajis
    -Air Su’r
  4. -Air Embun
    -Air Salju
    -Air dari Mata Air
    -Air Laut
    -Air Sungai
    -Air Hujan
    -Air Telaga
  5. -Najis Mukhafafah cara membersihkannya cukup dipercikan air di bagian yang terkena najis, meskipun bekas najis masih melekat
    -Najis Mutawassithah cara membersihkannya dengan cara membasuhnya dengan air mengalir, sampai Wujud, Aromanya menghilang
    -Najis Mughallazhah cara membersihkannya dengan dicuci sebanyak 7 kali dengan air mengalir yang salah satunya dicampur dengan tanah
  6. Shalat
  7. Syarat Shalat
    Rukun Shalat
  8. Nama nama shalat Sunnah
    -Sunnah Qabliyah
    -Sunnah Ba’diyah
    -Sunnah Tahiatul Masjid
    -Dhuha
    -Witir
    -Tahajud
    -Rawatib
    -Istikharah
    -Hajat
    -Mutlaq
    -Taubat
    -Tasbih
    -Tarawih
    -I’d
    -Khusuf
    -Istiqa
  9. Arti Puasa (Shaum) adalah Menahan
    Dalil Puasa

  10. Puasa Wajib
    -Puasa Ramadhan
    Puasa Sunnah
    -Puasa Senin Kamis
    -Puasa Nabi Dawud
    -Puasa Syawal
    -Puasa Arafah
    -Puasa Muharram
    -Puasa Ayyamul Bidh
    -Puasa Sya’ban

SKuP UL111H | Rifky Nurfaizi – 1933322204

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Assalamu’alaikum Wr Wb, Perkenalkan nama saya Rifky Nurfaizi, biasa dipanggil Rifky atau Nur, saya adalah mahasiswa di Universitas Raharja dengan Jenjang Pendidikan D3 Program Studi Teknik Informatika dengan konsentrasi Artificial Informatics dengan NIM 1933322204 Saya tinggal di Pekayon Kecamatan Sukadiri Kabupaten Banten

Hobby saya mendengar Musik dan Menonton Film

NoMateriAssignmentScoreGrade
1SKuP UL111H | Rifky Nurfaizi - 1933322204
2Pertemuan 1Tugas Pertemuan 1
3Pertemuan 2Tugas Pertemuan 2
4Pertemuan 3
5Pertemuan 4
6Pertemuan 5
7
8
9
10
11
12
13
14

SKuP – Siskha Nuristiana

Bismillah:) Hallo guys🤗 nama saya Siskha Nuristiana, biasa dipanggil Siskha, saya lahir pada di Boyolali pada tanggal 08 Desember 2001 biasa masi muda saya, saya anak pertama dari dua bersaudara, hobby saya mendengarkan musik, depan laptop, membaca kadang-kadang hehe^^

Sekarang saya kuliah di Universitas Raharja, Fakultas Sains dan Teknologi, Jurusan Sistem Imformasi, Konsentrasidi Business Intelegence, sumpah yaaa awalnya saya pengen masuk ke mavib pas daftar di Universitas Raharja ini, tapi karena berhubung penuh mavib nya pas daftar yaudah deh saya ambil Business Intelegence semoga saya bisa memperdalam tentang ilmu Business Intelegence:v

Sebelumnya saya bersekolah di Sd Negeri Pasir Jaya Cikupa, setelah itu saya bersekolah di Smp Negeri 3 Cikupa, Lalu saya melanjutkan ke Smk yaitu di Smk Bina Am Ma’mur di jalan raya serang km 12,5 desa sukadamai kecamatan cikupa kabupaten tangerang.

Follow me🥰

Instagram : @siskhanuris_08

Line : siskhanuris08

Skup UL111A-Soni solehudin

Assalamualaikum Wr. Wb.

Nama             : Soni Solehudin

Nim                 : 1933428118

Jurusan           : Sistem Komputer

Konsentrasi    : CCIT

Saya Mahasiswa Baru Universitas Raharja, Saya hobi Futsal,Game dan Adventure

Mungkin sekian yang bisa saya sampaikan kurang lebihnya mohon maaf

Wabillahitaufik Walhidayah Wassalamualaikum wr. wb.

No.AssignmentStatusGrade
1.
2.
3.
4.

 

Assignment Pertemuan 3 – Shyntia Trisnaningsih 1912425703

1. PERTANYAAN

Instructions

JAWABLAH PERTANYAAN BERIKUT :

  1. APA SAJA YANG TERMASUK SUMBER POKOK HUKUM ISLAM, SEBUTKAN DAN JELASKAN.
  2. SEBUTKAN 4 SUMBER HUKUM ISLAM YANG DISEPAKATI.
  3. SEBUTKAN  DAN JELASKKAN MINIMAL 3 HUKUM ISLAM YANG TIDAK DISEPAKATI.
  4. SEBUTKAN 6 MACAM HUKUM ISLAM, DAN JELASKAN SATU DEMI SATU.

 

2. STATUS

100% tercapai.

 

3. KETERANGAN

Saya telah mengerjakan tugas ini dengan baik dan benar.

 

4. BUKTI

 

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan sumber pokok hukum Islam, sebutkan dan jelaskan!

Sumber pokok hukum Islam ada dua, yaitu : Al-Qur’an dan As-Sunah.

AL-QUR’AN merupakan sumber utama dan pertama dalam pengambilan hukum. Karena Al-Qur’an adalah perkataan Allah yang merupakan petunjuk kepada ummat manusia dan diwajibkan untuk berpegangan/berpedoman kepada Al-Qur’an. Ditulis dalam mushaf dengan jalan mutawattir dan membacanya dinilai sebagai ibadah.

Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 2; Al-Maidah Ayat 44-45, 47 :

ذلِكَ اْلكِتَبَ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (Al-Baqarah; 2)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُوْلئِكَ هُمُ اْلكفِرُوْنَ
“Dan barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah golongan orang-orang kafir”.

 

  • Pokok-pokok Isi Al-Quran
    Tauhid (kepercayaan terhadap keesaan Allah)
    Ibadah (perbuatan dari kepercayaan ajaran tauhid)
    Akhlak (perbuatan yang terpuji dan tercela)
    Janji dan ancaman (janji pahala/ganjaran bagi yang percaya)
    Kisah-kisah umat terdahulu (kisah para rasul untuk dijadikan teladan)

 

Menurut bahasa AS-SUNNAH yang berarti kebiasaan atau jalan/dijalani. Sunnah juga merupakan jalan yang ditempuh, cara/jalan yang sudah terbiasa, sebagai lawan dari kata bid’ah. Menurut istilah sunnah adalah sesuatu yang berasal dari Rasulullah saw baik berupa perkataan, perbuatan maupun penetapan pengakuan.

Maka, As-Sunnah adalah segala sesuatu yang diperhatikan, dilarang atau dianjurkan oleh Rasulullah saw baik berupa perkataan (qauli), perbuatan (fi’li), maupun ketetapannya (taqriry).

Sunnah dibagi menjadi tiga yaitu sunah qauliyah, sunah fi’liyah, dan sunah taqririyah. As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam adalah menjadikan As-Sunnah sebagai pedoman dan pegangan hidup, mengandarkan segala permasalahan hidupnya kepada As-Sunnah.

 

Dasar As-Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam
As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam yang kedua sangat kuat dan yang mengingkarina tergolong kafir. Peran sunnah terhadap Al-Quran yaitu:

  • Sunnah sebagai penjelas dan merinci ayat Al-Quran yang masih global
    Sunnah membawa hukum yang tidak ada ketentuan nash di Al-Quran
    Sunnah memperkuat ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat an-Nahl ayat 44 dan al-Hasyr ayat 7, sebagai berikut;

وَاَنْزَلْنَا اِلَيْكَ الذِكْرَ لِتُبَيِنَ لِلنَّاسِ مَانُزِلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
“Dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan”. (An-Nahl : 44)

وَمَاءَاتَكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَانَهكُمْ عَنْهُ فَانْتَهَوْاوَاتَّقُوْااللهَ, اِنَّ اللهَ شَدِيْدُاْلعِقَابِ
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras sikapnya”. (Al-Hasyr: 7)

Kedua ayat tersebut di atas jelas bahwa Hadits atau Sunnah menduduki tempat kedua setelah Al-Qur’an dalam menentukan hukum.

 

 

2. Sebutkan 4 sumber hukum Islam yang disepakati!

Sumber hukum Islam yang disepakati ada 4 : Al Qur’an, As-Sunah, Ijma dan Qiyas.

AL-QUR’AN merupakan sumber utama dan pertama dalam pengambilan hukum. Karena Al-Qur’an adalah perkataan Allah yang merupakan petunjuk kepada ummat manusia dan diwajibkan untuk berpegangan/berpedoman kepada Al-Qur’an. Ditulis dalam mushaf dengan jalan mutawattir dan membacanya dinilai sebagai ibadah.

Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 2; Al-Maidah Ayat 44-45, 47 :

ذلِكَ اْلكِتَبَ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (Al-Baqarah; 2)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُوْلئِكَ هُمُ اْلكفِرُوْنَ
“Dan barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah golongan orang-orang kafir”.

 

Pokok-pokok Isi Al-Quran:

  • Tauhid (kepercayaan terhadap keesaan Allah)
  • Ibadah (perbuatan dari kepercayaan ajaran tauhid)
  • Akhlak (perbuatan yang terpuji dan tercela)
  • Janji dan ancaman (janji pahala/ganjaran bagi yang percaya)
  • Kisah-kisah umat terdahulu (kisah para rasul untuk dijadikan teladan)

 

Menurut bahasa AS-SUNNAH yang berarti kebiasaan atau jalan/dijalani. Sunnah juga merupakan jalan yang ditempuh, cara/jalan yang sudah terbiasa, sebagai lawan dari kata bid’ah. Menurut istilah sunnah adalah sesuatu yang berasal dari Rasulullah saw baik berupa perkataan, perbuatan maupun penetapan pengakuan.

Maka, As-Sunnah adalah segala sesuatu yang diperhatikan, dilarang atau dianjurkan oleh Rasulullah saw baik berupa perkataan (qauli), perbuatan (fi’li), maupun ketetapannya (taqriry).

Sunnah dibagi menjadi tiga yaitu sunah qauliyah, sunah fi’liyah, dan sunah taqririyah. As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam adalah menjadikan As-Sunnah sebagai pedoman dan pegangan hidup, mengandarkan segala permasalahan hidupnya kepada As-Sunnah.

 

Dasar As-Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam:
As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam yang kedua sangat kuat dan yang mengingkarina tergolong kafir. Peran sunnah terhadap Al-Quran yaitu:

  • Sunnah sebagai penjelas dan merinci ayat Al-Quran yang masih global
    Sunnah membawa hukum yang tidak ada ketentuan nash di Al-Quran
    Sunnah memperkuat ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat an-Nahl ayat 44 dan al-Hasyr ayat 7, sebagai berikut;

وَاَنْزَلْنَا اِلَيْكَ الذِكْرَ لِتُبَيِنَ لِلنَّاسِ مَانُزِلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
“Dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan”. (An-Nahl : 44)

وَمَاءَاتَكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَانَهكُمْ عَنْهُ فَانْتَهَوْاوَاتَّقُوْااللهَ, اِنَّ اللهَ شَدِيْدُاْلعِقَابِ
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras sikapnya”. (Al-Hasyr: 7)

Kedua ayat tersebut di atas jelas bahwa Hadits atau Sunnah menduduki tempat kedua setelah Al-Qur’an dalam menentukan hukum.

 

IJMA berarti sepakat, setuju atau sependapat. Menurut istilah ijma adalah kesamaan pendapat para mujtahid umat nabi Muhammad saw setelah beliau wafat, pada suatu masa tertentu, tentang masalah tertentu. Contoh mengenai ijma’ adalah menjadikan sunnah sebagai salah satu sumber hukum Islam.

 

Macam-macam Ijma’:

  • Ijma’ sharih » semua mujtahid menyatakan persetujuan atas hukum yang mereka putuskan dengan lisan ataupun tulisan
    Ijma’ sukuti » sebagian mujtahid yang memutuskan hukum itu tidak semuanya menyatakan setuju baik lisan ataupun tulisan melainkan diam
    Dalam tatanan ilmu yang lebih luas lagi, ijma’ dibagi dalam beberapa macam, yaitu:
    Ijma’ ummah » kesepakatan seluruh mujtahid dalam suatu masalah
    Ijma’ shahaby » kesepakatan semua ulama sahabat dalam suatu masalah
    Ijma’ ahli madinah » kesepakatan ulama madinah dalam suatu masalah
    Ijma’ ahli kufah » kesepakatan ulama kufah dalam suatu masalah
    Ijma’ khalifah yang empat » kesepakatan empat khalifah (abu bakar, umar, usman, dan ali)
    Ijma’ syaikhani » kesepakatan pendapat antara abu bakar dan umar bin khatab
    Ijma’ ahli bait » kesepakatan pendapat antara ahli bait (keluarga Rasul)

 

Sebab-sebab Dilakukan Ijma’:
  • Karena adanya persoalan yang harus dicarikan status hukumnya
  • Karena nash baik yang berupa Al-Quran maupun As-Sunnah sudah tidak turun lagi
  • Karena pada masa itu jumlah mujtahid tidak terlalu banyak
  • Di antara para mujtahid belum timbul perpecahan
Contoh-contoh Ijma’:
  • Dikumpulkan dan dibukukan nash Al-Quran sejak masa pemerintahan
  • Penetapan tanggal 1 Ramadhan/tanggal 1 Syawwal harus disepakati
  • Nenek mendapatkan harta warisan 1/6 dari cucunya jika tidak terhijab

 

QIYAS menurut bahasa adalah mengukur, memperbandingkan atau mempersamakan sesuatu dengan lainnya dikarenakan adanya persamaan. Menurut istilah qiyas adalah menetapkan hukum sesuatu yang belum ada ketentuan hukumnya dalam nash dengan mempersamakan sesuatu yang telah ada status hukumnya dalam nash.
Berbeda dengan ijma’, qiyas bisa dilakukan oleh individu, sedangkan ijma’ harus dilakukan bersama oleh para mujtahid.

 

Macam-macam qiyas:

  • Qiyas aulawi » mengiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang hukumnya telah ada, namun sifat/illatnya lebih tinggi dari hukumnya
  • Qiyas musawi » illat qiyas suatu hukum sama seperti halnya kasus keharaman hukum membakar harta anak dengan memakan hartanya
  • Qiyas dilalah » menetapkan hukum karena ada persamaan dilalat al-hukm (penunjukkan hukumnya)
  • Qiyas syibh » terjadinya keraguan dalam mengiyaskan, keasal mana illat ditunjukkan kemudian harus ditentukan salah satunya dalam rangka penetapan hukum padanya
Kedudukan qiyas dalam hukum Islam
       Menurut para ulama kenamaan, bahwa qiyas itu merupakan hujjah syar’iyyah terhadap hukum akal. Qiyas ini menduduki tingkat keempat hujjah syar’i, sebab dalam suatu peristiwa bila tidak terdapat hukumnya yang berdasarkan nash, maka peristiwa itu disamakan dengan yang lainnya.
Sebab-sebab dilakukan qiyas:
  • Karena adanya persoalan-persoalan yang harus dicarikan status hukumnya
  • Karena nash, baik berupa Al-Quran maupun As-Sunnah telah berakhir dan tidak turun lagi
  • Karena adanya persamaan illat

 

Contoh qiyas:

  • Pada contoh pertama, semua jenis minuman keras mempunyai unsur yang sama, ialah memabukkan dan merusak saraf otak/akal
  • Pada contoh kedua, kedua macam pembunuhan mempunyai motif yang sama, ialah mempercepat waktu untuk menerima warisan.
  • Pada contoh ketiga, semua kegiatan bisnis pada waktu adzan sholat jum’at dapat melengahkan/melupakan orang dari sholat jum’at yang wajib itu.

 

 

3. Sebutkan dan jelaskan 3 hukum Islam yang TIDAK disepakati!

ISTIHAB

Kata ISTIBAB secara etimologi berarti “meminta ikut serta secara terus menerus”. Menurut Ibnu al Qayyim al Jawziyah: menetapkan berlakunya suatu hukum yang telah ada atau meniadakan sesuatu yg memang tiada sampai ada bukti yg mengubah kedudukannya.

 

Macam macam Istishab:

  1. Istishab al ibahah al ashliyah

Istishab yang disdasrkan atas hukum ashal dari sesuatu yang mubah, suatu makanan/tindakan akan dianggap selalu halal/boleh dilakukan/ dimakan menurut hukum aslinya selama tidak ada dalil yg melarang.

  1. Istishab al bara ah al ashliyah

Istishab yg di dasarkan atas prinsip bahwa padadasarnya  setiap orang bebas dari tuntutan hukum taklifi., seseorang akan dianggap bebasdari kesalahan/ hutang selama adabelum ada bukti yang mengubahnaya

  1. Istishab al hukm

Didasrkan atas tetapnya status hukum yg sudah ada selama tidak adabukti yang mengubahnya contoh seseorang yang jelas menikah /aqad nikah dengan seorang wanita maka si wanita tetap dianggap sebagaiseorang istri sebelum ada yang mengubanya/ cerai

  1. Istishab al wasf

Yg didasarka atas anggapan masih tetapnya sifat yng diketahui ada sebelumnya sampai ada bukti yg mengubahnya, air yang di anggap bersih tetap dinggap bersi sebelum ada yang mengubahnya.

Manurut ulama’ ushul fiqih sspakat tentang tiga macam istishab yang telah dikemukan, tetapi mereka berbeda pendapat pada istishab yang ke empat/istishab al wasf,kalangan Syafiiah dan Hanabilah sepakat mengunakan secar penuh sedangkan Malikiyah dan Hanafiyah bahwa Istishab al wasf hanya berlaku untuk mempertahankan haknya bukan untukmenimbulkan hak yang baru.

 

MASLAHAH AL MURSLAH

Menurut abdul wahab khalaf; sesuatu yang dianggap maslahah namun tidak ada ketegasan hukum untuk merealisasikanya dan tidak pula ada dalil yang mendukung maupun yang menolaknya,sehingga ia dikatakn Maslahah al mursalah ( maslahah yang lepasdari dalil secara khusus).

Untuk memperjelas Maslahah al mursalah, menurut abdul karim zaidan menjelaskan macam-macam maslahah:

  1. Al Maslahah al Mu’tabarah yaitu maslahah yang secara tegas di akui secara syariat dan telah ditetapkan ketentuan2 hukum untuk merealisasikannya misal perintah berjihad untuk memelihara agamadll
  2. Al maslahah al mulgah yaitu;sesuatu yang dianggap maslahah oleh akal pikiran, tetapi dianggap palsu karna bertentangan denagan syariat misal ada anggapan bahwa menyamkan pembagian warisan antara lakidan perempuan di anggap maslahah tetapi ini bertentangan dengan nash al quran surah annisa ayat 11
  3. Al maslahah al mursalah, ini lah yag dimaksud dalam bahasan maslahah yg definisinya seperti di terangkan dia atas, misal peraturan lalu lintas yg tidak ada dalil baik al qur an maupun hadis namun peraturan terseut sesuai dengan tujuan syariat yaitu memelihara jiwa dan harta.

 

Para ulama’ belum sepenuhnya sepakat bahwa maslahah al mursalah dapat dijadikan sumberhukum islam artinanya maslahah al mursalah termasuk sumber hukum Islam yg masih di pertentangkan, golongan mazhab Syafii dan Hanafy tidak menganggap maslahah al mursalah sebagai sumber hukum yang berdiri sendiri, dan memasukkannya dalam katagori  bab Qiyas, jika dalam suatu maslahah tidak didapatkannya nash yg bisa dijadikannya acuan dalam Qiyas maka maslahah tersebut di anggap batal/ tidak diterima. Sedang Imam malik dan Imam Hanbaly mengatakan bahwa maslahah dapat diterima dan dapat dijadikan sumber hukum apabila memenuhi syarat.

Adapun syaratnya yaitu:

  1. Adanya persesuian antara maslahah yg dipandang sebagai sumber dalil yg berdiri sendiri dengan tujuan tujuan syariat ( maqashid as syari’ah).
  2. Maslahah harus masuk akal ( rationable).
  3. Penggunan dalil maslahah adalah dalam rangka menghilangkan kesulitan yang terjadi ( raf’u haraj lazim), seperti firman Allah surah al hajj ayat 78, yg artinya  “dan Dia tidak sekali kali menjdikan untuk kamu suatu kesempitan.”( lihat al I’tisham oleh As Syatibi juz 3, hal 307).

 

URF (Adat Istiadat)

URF ( Adat istiadat)

Kata ‘urf secara etimologi berarti “sesuatu yang dipandang baik dan diterima akal sehat”. Sedang secara terminologi menurut Abdul Karim Zaidan yaitu “ sesuatu yang tidak asing lagi bagi suatu masyarakat karna telah menjadi kebiasaan dan menyatu dengan kehidupan mereka baik berupa perbuatan maupun perkataan.

‘Urf merupakan satu sumber hukum yang di ambil dari mazhab Maliki dan hanafy, yang berada di luar lingkup nash, dan tergolong dalam satu sumber hukum (asl) dari ushul fiqih yg di ambil dari Intisari hadis Nabi yang artinya:.. “apa yang dipandang baik kaum muslimin, makamenurut Allah pun di golongkansebagai perkara yang baik

Oleh karna itu UlamaMazhab Maliky dan Hanafy bahwa hukum yang ditetapkan berdasarkan urf yang shahih sama dengan yang ditetapkan berdasarkandalil syari’iy.

Adapun pembagian ‘Urf dibagi menjadi dua macam

  1. ‘Urf yang Fasid ( rusak/jelek) yang tidak bisa diterima, yaitu ‘Urf yang bertentangan dengan Nash Qath’i
  2. ‘Urf yang shahih( baik/Benar), suatu kebiasaan  baik yang tidak bertentangan dengan syariat.[18]

Syarat 2 ‘urf agar dapat dijadikan landasan hukum, menurut Abdul Karim Zaidan:

  1. ‘urf itu termasuk ‘Urf yang Shahih
  2. ‘Urf harus bersifat Umum, artinya telah menjadi kebiasaan umum
  3. ‘Urf itu harus sudah ada ketika ketika terjadinya suatu peristiwayg akan dilandaskan pada urf tersebut,misal seseorang yg mewkafkan  hasil kebunya kepada ulama’,sedangkan definisi ulama pada waktu ituhanyalah orang yang punya pengetahuan agama tanpa ada persyaratan Ijazah, maka kata ulama dalam pernyataan wakaf harus diartikan dengan pengertian yg populer pada waktu itu.
  4. Tidak ada ketegasan dari pihak2terkait yang berlainan dengan pihak ‘Urf tersebut.

 

 

4. Sebutkan 6 macam hukum Islam dan jelaskan satu per satu!

Macam -macam hukum Islam yaitu ada 6, yaitu:  Halal, Haram, Wajib/Fardhu, Sunah, Mubah, Makruh.

  • HALAL : Suatu perkara, benda, perbuatan yang diijinkan dan dibolehkan untuk dikerjakan atau dimakan.  Dalam kosa kata keseharian digunakan untuk merujuk kepada makanan atau minuman yang diijinkan untuk dijualbelikan menurut Islam. Halal ada dua li-zati (halal zat-nya atau bendanya), dan li kasbi (perolehannya atau cara mencarinya). Contoh : nasi, tahu, tempe, sayuran, ikan.

 

  • HARAM : Suatu perkara yang dilarang, serta berdosa jika dikerjakan dan berpahala jika ditinggalkan.  Contoh : Zina, Mabuk, Judi, Sihir, mencuri sejenisnya, menipu sejenisnya. Haram ada dua : Li-ZatI (benda, zatnya : Babi, hamer, racun, darah, bangkai), Sababi (sebab perolehannya/mencarinya : semua benda, barang halal yang diperoleh dengan cara yang tidak halal yaitu : menipu, mencuri, korupsi, suap maka jadi haram).

 

  • WAJIB/FARDHU  : Suatu amalan atau perbuatan yang harus dikerjakan oleh muslim  mukalaf, sekiranya dikerjakan berpahala dan jika ditinggalkan berdosa. Contoh : sholat 5 waktu, puasa ramadhan, zakat fitrah dan mal, haji bagi yang mampu. Wajib atau fardhu ada dua : Fardhu/wajib ‘AIN (kewajiban individu)  dan Kifayah (kewajiban atau fardhu secara kolekif atau kelompok yang sekiranya salah satu dari kelompok tsb sudah ada yang mengerjakan maka gugurlah kewajiban bagi yang lain, namun jika tidak maka berdosalah semua kelompok tsb. Contoh : mengurus jenazah.

 

  • SUNAH : Suatu status hukum Islam yang dianjurkan sehingga jika dikerjakan pelakunya mendapat pahala, namun jika ditinggalkan tidak berdosa contoh : Sholat sunah Rawatib, Aqiqah, puasa senin-kamis dll. 

 

  • MAKRUH : Suatu perbuatan yang jika dikerjakan tiada berdosa, namun sekiranya ditinggalkan akan mendapat pahala.  Contoh : makan makanan yang baunya kurang sedap (petai, jengkol, bawang mentah).

 

  • MUBAH : suatu perbuatan yang baik dikerjakan maupun ditinggalkan tidak mendapat pahala maupun dosa.  Namun perbuatan mubah jika kita niatkan dan sempurnakan karena Allah menjadi Sunah. 

Assignment Pertemuan 2 Agama – Shyntia Trisnaningsih 1912425703

1. PERTANYAAN

  1. Secara bahasa kata aqoda dapat dilihat dalam (QS:4:33, QS:5:89, QS:5:1, QS:2:235). Ketiga ayat pertama berkonotasi………..
  2. Ditinjau dari segi fungsinya istilah “aqidah” mengandung beberapa arti yakni ….
  3. Di dunia ini tidak ada manusia yang bebas, buktinya setiap manusia punya cita-cita/tujuan hidup, setiap manusia tidak mungkin hidup sebatang kara tanpa bantuan orang lain atau makhluq lain. Misalnya ……
    Arah, tujuan dan cita2 hidup seorang yang beraqidah tauhid adalah ukhrawi sementara arah, tujuan dan cita2 hidup seorang yang beraqidah syirik adalah duniawi. Jelaskan
  4. Secara istilah aqidah berarti keyakinan atau keimanan. Istilah aqidah tidak terdapat dalam Al Qur’an, namun Al Qur’an menggunakan kata iman untuk menunjukan makna aqidah tersebut. Fungsi aqidah sebagai dasar/ikatan sama seperti halnya fungsi iman. Iman adalah sesuatu yang mengikat dan menjadi dasar pengendali kehidupan seorang (muslim). Iman menurut definisi para ulama adalah ……
  5. Jelaskan perbedaan tauhid rububiyah dan uluhiyah
  6. Seseorang beraqidah (tauhid Rububiyah) adalah ketika ia …….
  7. Lawanan dari sikap tauhid (aqidah tauhid) adalah 

 

2. STATUS

100% tercapai.

 

3. KETERANGAN

Saya telah mengerjakan tugas ini dengan baik dan benar.

 

4. BUKTI

 

1. Secara bahasa kata aqoda dapat dilihat dalam (QS:4:33, QS:5:89, QS:5:1, QS:2:235). Ketiga ayat pertama berkonotasi…

Secara bahasa kata aqoda dapat dilihat dalam (QS:4:33, QS:5:89, QS:5:1, QS:2:235). Ketiga ayat pertama berkonotasi ikatan perjanjian (uqud, aqdul, aiman), baik janji terhadap Allah maupun antara sesama muslim. Pada surat 2:235 berbicara tentang aqad nikah, dimana seseorang dilarang menikahi seorang wanita sebelum habis masa ‘iddahnya. Aqad nikah adalah sebuah ikatan yang dengannnya menghalalkan hubungan dan membatasi hak dan kewajiban, bagi ikhwan dan akhwat yang bukan muhrim. Pengertian kata aqad dari ayat-ayat diatas menunjukkan sebuah ikatan perjanjian yang didalamnya mengandung konsekuensi-konsekuensi tertentu.

 

2. Ditinjau dari segi fungsinya istilah “aqidah” mengandung beberapa arti yakni…

Ditinjau dari segi fungsinya istilah “aqidah” mengandung beberapa arti yakni pertama sebagai ikatan yang membatasi, mengekang dan membelenggu. Kedua, ikatan yang mengendalikan dan memberi arah. Aqidah sebagai ikatan pembatas/pengekang maksudnya sesuatu yang membatasi, mengekang dan membelenggu eksistensi manusia. Pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang tidak bebas (terbelenggu). Setiap manusia terikat oleh ikatan-ikatan yang membelenggu kehidupannya, di mana dia tidak dapat keluar dari ikatan/tali tersebut.

 

3. Di dunia ini tidak ada manusia yang bebas, buktinya setiap manusia punya cita-cita/tujuan hidup, setiap manusia tidak mungkin hidup sebatang kara tanpa bantuan orang lain atau makhluk lain. Misalnya…arah, tujuan dan cita2 hidup seorang yang beraqidah tauhid adalah ukhrawi sementara arah, tujuan dan cita2 hidup seorang yang beraqidah syirik adalah duniawi. Jelaskan!

Dalam keseharian kita sering mendengar ungkapan bahwa ada manusia yang mau bebas tidak mau terikat”. Sebenarnya ungkapan tersebut hanyalah sebuah pelarian dari satu masalah saja, sebab di dunia ini tidak ada manusia yang bebas, buktinya setiap manusia punya cita-cita/tujuan hidup, setiap manusia tidak mungkin hidup sebatang kara tanpa bantuan orang lain atau makhluk lain. Misalnya :

  1. Seorang karyawan pabrik berhenti bekerja dengan alasan tidak mau terikat dengan waktu kerja, sehingga dia alih profesi jualan seafood di malam hari. Apakah sang karyawan tersebut bebas ? benar dia bebas dari waktu kerja pabrik jam 8-17 setiap hari, tapi dia telah terikat dengan waktu kerja lainnya yaitu harus buka dari jam 17-23 setiap hari, jika dia tidak jualan, maka tidak dapat uang, jika tidak jualan beberapa hari maka tempat dagangnya akan di ambil oleh pedagang lain.
  2. Seorang muslim berikrar mau bebas tidak mau terikat, sehingga dia tidak mau mengikuti setiap acara pengajian dimanapun karena takut terikat. Apakah dia telah bebas? Benar dia telah bebas dari waktu mengikuti pengajian, tetapi dia akan terikat dengan waktu lainnya yang akan dia habiskan setelah pulang kerja atau saat libur seperti : main kartu, main catur, nongkrong di perempatan sambil cerita ngalur ngidul sampai ngantuk, nonton TV kabel sampai ngantuk, dugem di diskotik/café saat libur, dll

Manusia adalah makhluk yang beraqidah/terikat, baik ia terikat pada Allah sebagai pencipta-Nya (aqidah tauhid) maupun aqidah-aqidah diluar Allah (aqidah syirik). Saat seorang manusia telah bersyahadah sebagai seorang muslim, maka dia akan terikat dengan aturan Allah dan Rasul-Nya (beraqidah tauhid), seperti harus menjalankan seluruh perintah Allah. Jika dia tidak mau terikat dengan aturan Allah dan Rasul-Nya, maka dia telah bebas dari aturan Allah Rasul-Nya tetapi dia akan masuk kepada ikatan selain Allah dan Rasul-Nya (beraqidah syirik).

Aqidah sebagai ikatan/tali pengendali maksudnya aqidah berfungsi sebagai sesuatu yang mengendalikan dan mengarahkan kehidupan seorang manusia sehingga ia dapat berjalan dengan arah tujuan yang benar sesuai dengan hakekat eksistensi dirinya. Yang dimaksud dengan arah tujuan yang benar adalah harus sesuai dengan ketetapan Allah dan Rasul-Nya.

 

4. Secara istilah aqidah berarti keyakinan atau keimanan. Istilah aqidah tidak terdapat dalam Al Qur’an, namun Al Quran menggunakan kata iman untuk menunjukan makna aqidah tersebut. Fungsi aqidah sebagai dasar/ikatan sama seperti halnya fungsi iman. Iman adalah sesuatu yang mengikat dan menjadi dasar pengendali kehidupan seorang (muslim). Iman menurut definisi para ulama adalah…

Aqidah sebagai ikatan pembatas dapat diilustrasikan dengan seekor kuda yang diikat pada sebuah patok (tiang). Tali yang mengikatnya memberi batasan radius dari ruang geraknya, dimana ia tidak bisa keluar dari batasan tersebut. Kebebasan bergeraknya adalah sepanjang/sejauh tali yang mengikatnya. Jika kuda tersebut patuh pada batasan tali yang mengikatnya, maka sesungguhnya ia hidup dalam wilayah kebebasan yang telah diberikan oleh si pemilik tersebut. Namun jika si kuda tersebut keluar dan memutus tali ikatannya, maka ia sungguh telah keluar dari satu ikatan dan masuk ke dalam ikatan tali yang lain yang juga akan membatasi dan mengendalikannya.

 

Sedangkan aqidah sebagai ikatan pengendali dapat dicontohkan dengan ilustrasi kuda yang ditunggangi oleh seorang sais. Kuda tersebut tidak hanya terbelenggu tetapi juga dikendalikan dan diarahkan laju geraknya sesuai dengan kehendak dari si pemilik (sais). Ilustrasi aqidah sebagai tali pengikat di atas, jika dikaitkan dengan konteks manusia dapat dijadikan gambaran bahwa sesungguhnya kehidupan manusia terikat oleh sebuah ikatan/tali (aqidah) yang membelenggu, membatasi, mengarahkan dan mengendalikan seluruh aktivitas hidup dan kehidupannya.

  1. Aqidah inilah yang akan menjadi landasan hidup seseorang, yang akan memberi batasan-batasan serta arah-tujuan dari kehidupan seharusnya. Sehingga seorang yang beraqidah tauhid akan memiliki arah-tujuan dari kehidupannya yang berbeda dengan seorang yang beraqidah syirik.
  2. Arah, tujuan dan cita2 hidup seorang yang beraqidah tauhid adalah ukhrawi yakni bagaimana agar dia bisa hidup bahagia di akhirat kelak, dan jika bisa, dia akan  mencari dan mendapatkan kebahagiaan hidup juga di dunia. Sehingga dia akan memprioritaskan dan menghabiskan waktunya untuk mencari hidayah, dan mempertahankan keimanannya, serta akan menggunakan rezki (dalam bentuk maal/uang dan harta benda) sesuai dengan kebutuhan, dan akan rajin berinfaq.
  3. Arah, tujuan dan cita2 hidup seorang yang beraqidah syirik adalah duniawi yakni bagaimana agar dia bisa hidup bahagia di dunia, dan jika bisa, dia akan  mencari dan mendapatkan kebahagiaan hidup juga di akhirat. Sehingga dia akan memprioritaskan dan menghabiskan waktunya untuk mencari duit/uang dengan bekerja siang dan malam, dan tidak peduli terhadap status keimanannya. Dia akan menyisakan sedikit sekali waktu untuk mempertahankan keimanannya. Orang seperti ini akan menganggap sudah beriman jika sudah mampu shalat 5 waktu, bayar zakat fitrah, puasa di bulan Ramadhan, dan bisa pergi haji satu kali atau berulang kali. Serta akan menggunakan rezki (dalam bentuk ma’al/uang dan harta benda) hanya untuk kebutuhan duniawi semata, dan akan malas untuk berinfaq.

Secara istilah aqidah berarti keyakinan atau keimanan. Istilah aqidah tidak terdapat dalam Al Quran, namun Al Qur’an menggunakan kata iman untuk menunjukan makna aqidah tersebut. Fungsi aqidah sebagai dasar/ikatan sama seperti halnya fungsi iman. Iman adalah sesuatu yang mengikat dan menjadi dasar pengendali kehidupan seorang (muslim).

Iman menurut definisi para ulama adalah :

“Membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan”.

Mengucapkan dengan lisan itu adalah iqror syahadah yang di maksud daripertanyaan diatas. Dari definisi tersebut iman/keyakinan mengandung dua aspek (wujud menifestasi) yakni aspek batiniah berupa tasdiq biqolbi dan aspek lahiriah berupa iqror billisan atau iqror syahadah dan qobilul bil arkan, sebagai pembuktian dari pembenaran dalam hati. Jadi iman adalah kesatuan antara aspek bathiniah dan lahiriah. Dalam hadits dinyatakan :

“Iman itu bukan khayalan atau angan-angan dan bersifat konkrit (material) tetapi sesuatu yang bersemayam dalam hati nafsiyah (dan dibuktikan dengan amal)”.

Dari keterangan hadits tersebut, menegaskan bahwa iman adalah sesuatu yang aplikatif/dhohir, bukan hayalan/angan-angan tetapi sesuatu yang berwujud dalam realitas dan menjadi dasar dari seluruh aspek kehidupan. Pembuktian iman didalam hati/qolbu tersebut adalah diawali dengan iqror billisan atau iqror syahadah lalu mengamalkan dengan perbuatan. Sehingga seorang muslim yang perbuatan sehari-harinya selalu melanggar perintah Allah, maka seperti itulah cerminan keimanan yang ada di dalam hatinya.

Iman dilukiskan oleh Al-Qur’an sebagai cahaya (nur) (lihat QS:24:35), yakni sebuah cahaya yang dengannya manusia dapat berjalan dengan benar (QS:6:122). Maksudnya seseorang yang beriman (diawali dengan meyakini didalam hati/qolbu dilanjutkan dengan dengan iqror billisan atau iqror syahadah akan memahami batas-batas yang harus ditaatinya serta mampu mengarahkan dan mengendalikan seluruh aktivitasnya sesuai dengan cahaya tersebut. Gambaran tentang iman dijelaskan dalam QS:24:35 yang artinya, “Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.perumpamaan cahaya Allah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyaknya berkahnya, yaitu pohon Zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing cahaya-Nya siapa yang dikehendakinya, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.

Al-Qur’an adalah sumber energi yang dapat membangkitkan (menghidupkan) cahaya iman/keyakinan dalam diri manusia. Proses perpaduan dan penyatuan komponen-komponen inilah yang menghasilkan “pelita” atau proses keimanan (hidayah). Jadi proses iman (hidayah) adalah ketika bertemu/menyatunya antara cahaya Allah dalam wujud Al-Qur’an dan nur Allah yang terdapat dalam diri manusia (nurun ala nurin yahdilahu linurihi mayyasa).

Dari lukisan pelita di atas jelas bahwa kedudukan aqidah (keimanan/keyakinan) adalah sangat fundamental. Fungsi aqidah adalah sebagai asas-dasar yang menjadi landasan dari seluruh tatanan aktivitas hidup manusia. Landasan dari seluruh tatanan aktivitas hidup manusia akan bernilai jika di awali dengan melakukan dan mengucapkan iqror billisan atau iqror syahadah, sebagai bukti konkrit keimanan seseorang, sebab kedudukan iman ini diumpamakan Al-Quran seperti sebuah “akar” pohon. Akar berfungsi sebagai asas dasar sekaligus sebagai penopang dari seluruh bangunan yang tumbuh di atasnya. Seperti dilukiskan dalam QS:14:24-25.

 

 

 “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan “Khalimah Thoyyibah” seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buihnya pada setiap musim dengan seizin Allah. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”(24-25).

 

5. Jelaskan perbedaan tauhid rububiyah dan uluhiyah!

Perbedaan tauhid rububiyah dengan tauhid uluhiyah dapat diringkas pada poin-poin berikut :

  • Perbedaan akar kata. Kata rububiyah diambil dari salah satu nama Allah, yaitu Rabb yang memiliki beberapa arti, antara lain : al-murabbi (pemelihara), an-nashir(penolong) dll. Sedangkan uluhiyah berasal dari akar kata Ilah, yang artinya yang disembah atau yang ditaati.
  • Tauhid rububiyah terkait dengan masalah-masalah kauniyah (alam) seperti: menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan dan semacamnya. Sedangkan tauhid uluhiyah terkait dengan perintah dan larangan, seperti : wajib, haram, makruh, dan lain-lain.
  • Kaum Musyrikin meyakini tauhid rububiyah tetapi menolak mengakui tauhid uluhiyah.
  • Subtansi tauhid rububiyah bersifat ilmiah (pengetahuan), sedangkan subtansi tauhid uluhiyah bersifat amaliyah (aplikatif).
  • Tauhid uluhiyah adalah konsekwensi pengakuan terhadap tauhid rububiyah. Maksudnya, tauhid uluhiyah itu berada di luar tauhid rububiyah, tetapi tauhid rububiyah tidak dianggap teraplikasi dengan benar kecuali bila ditindaklanjuti dengan tauhid uluhiyah. Dan bahwa tauhid uluhiyah sekaligus mengandung pengakuan atas tauhid rububiyah dalam artian bahwa tauhid rububiyah merupakan bagian dari tauhid uluhiyah.
  • Tidak semua yang beriman kepada tauhid rububiyah otomais menjadi Muslim. Tetapi semua yang beriman pada tauhid uluhiah otomatis menjadi Muslim.
  • Tauhid rububiyah adalah pengesan Allah SWT dengan perbuatan-perbuatanNya sendiri, seperti mengesakan Dia sebagai Pencipta dan semacamnya. Sedangkan tauhid uluhiyah adalah penegasan Allah dengan perbuatan-perbuatan hambaNya, seperti shalat, zakat, haji, cinta, benci, dll. Karenanya tauhid uluhiyah sering pula disebut tauhid iradah dan tahalab (kemauan dan permohonan).

 

6. Seseorang beraqidah (tauhid Rububiyah) adalah ketika ia …….

Seseorang beraqidah (tauhid rububiyah) adalah ketika ia mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka.

Meyakini rububiyah yaitu meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allahlah yang memberikan rizqi, Allah yang mendatangkan badai dan hujan, Allah menggerakan bintang-bintang, dll.

 

7. Lawanan dari sikap tauhid (aqidah tauhid) adalah 

Lawanan dari sikap tauhid (aqidah tauhid) adalah syirik, yakni menyekutukan Allah.

Tugas pertemuan 2 agama UL111I Nur Rochman 19214223391

1. Pertanyaan :

  1. Secara bahasa kata aqoda dapat dilihat dalam (QS:4:33, QS:5:89, QS:5:1, QS:2:235). Ketiga ayat pertama berkonotasi………..
  2. Ditinjau dari segi fungsinya istilah “aqidah” mengandung beberapa arti yakni ….
  3. Di dunia ini tidak ada manusia yang bebas, buktinya setiap manusia punya cita-cita/tujuan hidup, setiap manusia tidak mungkin hidup sebatang kara tanpa bantuan orang lain atau makhluq lain. Misalnya ……
    Arah, tujuan dan cita2 hidup seorang yang beraqidah tauhid adalah ukhrawi sementara arah, tujuan dan cita2 hidup seorang yang beraqidah syirik adalah duniawi. Jelaskan
  4. Secara istilah aqidah berarti keyakinan atau keimanan. Istilah aqidah tidak terdapat dalam Al Qur’an, namun Al Qur’an menggunakan kata iman untuk menunjukan makna aqidah tersebut. Fungsi aqidah sebagai dasar/ikatan sama seperti halnya fungsi iman. Iman adalah sesuatu yang mengikat dan menjadi dasar pengendali kehidupan seorang (muslim). Iman menurut definisi para ulama adalah ……
  5. Jelaskan perbedaan tauhid rububiyah dan uluhiyah
  6. Seseorang beraqidah (tauhid Rububiyah) adalah ketika ia …….
  7. Lawanan dari sikap tauhid (aqidah tauhid) adalah

2. Status : 100% tercapai

3. Keterangan : saya sudah mengerjakan tugas tersebut

4. Bukti

1. Secara bahasa kata aqoda dapat dilihat dalam (QS:4:33, QS:5:89, QS:5:1, QS:2:235). Ketiga ayat pertama berkonotasi: ikatan perjanjian (uqud, aqdul, aiman), baik janji terhadap Allah maupun antara sesama muslim.

2. Ditinjau dari segi fungsinya istilah “aqidah” mengandung beberapa arti yakni : pertama sebagai ikatan yang membatasi, mengekang dan membelenggu. Kedua, ikatan yang mengendalikan dan memberi arah.

3. Di dunia ini tidak ada manusia yang bebas, buktinya setiap manusia punya cita-cita/tujuan hidup, setiap manusia tidak mungkin hidup sebatang kara tanpa bantuan orang lain atau makhluq lain. Misalnya : Seorang muslim berikrar mau bebas tidak mau terikat, sehingga dia tidak mau mengikuti setiap acara pengajian dimanapun karena takut terikat. Apakah dia telah bebas ? benar dia telah bebas dari waktu mengikuti pengajian, tetapi dia akan terikat dengan waktu lainnya yang akan dia habiskan setelah pulang kerja atau saat libur seperti : main kartu, main catur, nongkrong di perempatan sambil cerita ngalur ngidul sampai ngntuk, nonton TV cabel sampai ngantuk, dugem di diskotik/café saat libur

4. Arah, tujuan dan cita2 hidup seorang yang beraqidah tauhid adalah ukhrawi sementara arah, tujuan dan cita2 hidup seorang yang beraqidah syirik adalah duniawi. Jelaskan: Manusia adalah makhluk yang beraqidah/terikat, baik ia terikat pada Allah sebagai penciptanya (aqidah tauhid) maupun aqidah-aqidah diluar Allah (aqidah syirik). Saat seorang manusia telah bersyahadah sebagai seorang muslim, maka dia akan terikat dengan aturan Allah dan Rasul-Nya (beraqidah tauhid), seperti harus menjalankan seluruh perintah Allah. Jika dia tidak mau terikat dengan aturan Allah dan Rasul-Nya, maka dia telah bebas dari aturan Allah Rasul-Nya tetapi dia akan masuk kepada ikatan selain Allah dan Rasul-Nya (beraqidah syirik).

5. Secara istilah aqidah berarti keyakinan atau keimanan. Istilah aqidah tidak terdapat dalam Al Qur’an, namun Al Qur’an menggunakan kata iman untuk menunjukan makna aqidah tersebut. Fungsi aqidah sebagai dasar/ikatan sama seperti halnya fungsi iman. Iman adalah sesuatu yang mengikat dan menjadi dasar pengendali kehidupan seorang (muslim). Iman menurut definisi para ulama adalah: “membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan”.

7. Jelaskan perbedaan tauhid rububiyah dan uluhiyah : Tauhid Rububiyah berarti menegaskan Allah dengan Menjadikan-Nya sebagai satu-satunya sumber otoritas dan legalitas hukum yang haq serta menafikan segala sumber hukum selain yang ditetapkan Allah.
Tauhid Uluhiyah, yang mengandung makna bahwa hanya Allah tempat dan pusat dari segala yang dipinta, dimaksud, diibadahi dan tidak ada yang maujud kecuali Allah.

8. Seseorang beraqidah (tauhid Rububiyah) adalah ketika ia : terikat dan mengikatkan hidupnya dengan din Islam, dengan menjadikan din Islam sebagai satu-satunya sumber hukum, sebagai pengaturan dan pemeliharaan Allah di muka bumi.

9. Lawanan dari sikap tauhid (aqidah tauhid) adalah : syirik (menyekutukan Allah), yakni menjadikan selain Allah sebagai dasar aqidahnya.